Bank Sentral Global Terus Menambah Cadangan Emas di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

Survei internasional menunjukkan bank sentral meningkatkan kepemilikan emas secara konsisten
Bank sentral di berbagai negara terus meningkatkan cadangan emas meskipun harga komoditas tersebut mengalami lonjakan, volatilitas tinggi, dan koreksi tajam dalam beberapa dekade terakhir. Lembaga keuangan global tetap menilai emas sebagai aset strategis di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang meningkat pada awal 2026.
Survei yang dilakukan oleh Central Banking Publications dengan dukungan HSBC mengumpulkan pandangan dari 101 bank sentral yang mengelola cadangan emas senilai lebih dari US$9,5 triliun. Hasil survei menunjukkan bahwa 72,6 persen bank sentral telah berinvestasi dalam emas, meningkat dibandingkan 69,4 persen pada tahun sebelumnya. Dengan demikian, tren akumulasi emas oleh otoritas moneter global terus menunjukkan penguatan.
Bank sentral mengakui peningkatan pembelian emas dan rencana penambahan cadangan jangka panjang
Survei tersebut juga mengungkap bahwa 15 bank sentral atau 15,8 persen responden telah melakukan pembelian emas dalam periode terbaru. Selain itu, tiga bank sentral lainnya menyatakan rencana untuk menambah cadangan emas dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Sementara itu, hanya 8,4 persen responden yang menyatakan tidak tertarik untuk berinvestasi pada logam mulia tersebut.
Dengan kondisi tersebut, bank sentral di berbagai kawasan menunjukkan kecenderungan yang semakin kuat untuk menjadikan emas sebagai bagian penting dari diversifikasi cadangan devisa mereka. Perubahan strategi ini berlangsung seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Bank sentral menilai risiko geopolitik mendorong diversifikasi cadangan global
Central Banking Publications mencatat bahwa ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu risiko ekonomi terbesar pada tahun ini. Sebanyak 69,7 persen bank sentral menyebutkan bahwa ketegangan geopolitik memengaruhi stabilitas ekonomi global, termasuk perdagangan, arus modal, dan harga komoditas.
Seorang manajer cadangan aset dari bank sentral di kawasan Timur Tengah menegaskan bahwa konflik geopolitik yang berlangsung dan yang berpotensi muncul memberikan dampak besar terhadap pasar keuangan global. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut memengaruhi korelasi aset dan memperbesar risiko ketidakstabilan ekonomi.
Bank sentral tetap mempertahankan dominasi dolar AS meski mempertimbangkan peningkatan emas
Meskipun tren diversifikasi meningkat, dolar Amerika Serikat tetap mempertahankan posisinya sebagai mata uang cadangan utama global. Survei menunjukkan bahwa 78 persen responden memperkirakan proses de-dolarisasi akan berlangsung secara bertahap dan tidak cepat.
Namun demikian, emas tetap menjadi fokus utama dalam strategi cadangan. Sebanyak 39 persen bank sentral menyatakan rencana untuk meningkatkan kepemilikan emas dalam satu tahun ke depan. Selain itu, 37 persen responden juga berencana mengelola cadangan emas mereka secara lebih aktif di tengah tingginya harga dan volatilitas pasar.
Bernard Altschuler selaku Kepala Global Cakupan Bank Sentral di HSBC menegaskan bahwa emas kini menjadi salah satu instrumen utama dalam strategi diversifikasi cadangan global di tengah meningkatnya risiko ekonomi dan geopolitik.
