Harga emas dunia bergerak stabil tetapi mencatat risiko penurunan mingguan akibat tekanan inflasi global

Harga emas dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Jumat, 2 Mei 2026, namun pasar tetap menempatkan logam mulia ini dalam risiko mencatat penurunan mingguan. Pergerakan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi global akibat lonjakan harga minyak serta ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama di sejumlah negara maju.
Harga emas tercatat turun tipis 0,05% ke level US$ 4.619,84 per ons troi. Meski demikian, emas tetap berada pada jalur penurunan mingguan sekitar 1,8% setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam satu bulan pada pertengahan pekan. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Juni justru menguat tipis 0,1% menjadi US$ 4.632,70 per ons troi, sehingga menunjukkan perbedaan arah antara pasar spot dan berjangka.
Pasar emas global bergerak hati-hati karena likuiditas melemah di Asia
Analis pasar keuangan senior Capital.com, Kyle Rodda, menilai pergerakan emas saat ini berlangsung terbatas karena aktivitas perdagangan yang rendah di kawasan Asia. Ia menjelaskan bahwa pasar bergerak dalam fase menunggu katalis baru yang dapat menentukan arah harga selanjutnya.
Rodda menyebutkan bahwa libur di sejumlah negara besar seperti China dan India turut menekan volume perdagangan global. Kondisi ini membuat investor cenderung berhati-hati dan mengurangi transaksi besar di pasar emas internasional.
Tekanan inflasi akibat harga minyak tinggi memperkuat ekspektasi suku bunga ketat
Tekanan utama terhadap harga emas muncul dari lonjakan harga minyak dunia yang terus memicu kekhawatiran inflasi global. Harga minyak Brent bertahan di atas US$ 110 per barel seiring ketidakpastian penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berlanjut.
Kenaikan harga energi mendorong inflasi di Amerika Serikat, terutama melalui peningkatan biaya bahan bakar. Kondisi ini kemudian memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral utama, termasuk Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Bahkan, sebagian pelaku pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan kebijakan yang lebih ketat jika tekanan inflasi tidak mereda.
