Harga Emas Terperosok ke Level Terendah Tiga Pekan

Pasar emas mengalami tekanan berat pada perdagangan Kamis, 23 April 2026. Harga logam mulia ini menyentuh level terendah dalam tiga pekan terakhir karena sentimen negatif menyelimuti pasar komoditas global. Penutupan perdagangan menempatkan harga di posisi US$ 4692,69 per troy ons, yang mencerminkan penurunan sebesar 0,95%. Situasi geopolitik yang memanas dan kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi pemicu utama aksi jual investor terhadap aset safe haven tersebut.
Konflik Timur Tengah Memicu Lonjakan Harga Minyak
Analis independen Tai Wong menyoroti ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran sebagai katalis utama pelemahan emas saat ini. Ketegangan yang kian memuncak di Selat Hormuz memicu kekhawatiran investor mengenai stabilitas pasokan energi dunia. Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah Brent melonjak tajam hingga menembus level US$ 105,07 per barel. Fenomena ini memaksa para pelaku pasar mengalihkan modal mereka dari emas ke aset lain, karena reli logam mulia mulai kehilangan momentum di tengah eskalasi konflik.
Penguatan Dolar AS Menekan Daya Tarik Emas
Selain isu geopolitik, penguatan indeks dolar AS ke level 98,77 memberikan tekanan tambahan bagi pergerakan harga emas. Dolar yang perkasa membuat harga emas berdenominasi mata uang Amerika Serikat menjadi lebih mahal bagi investor pemegang mata uang asing. Situasi ini diperparah oleh sikap Federal Reserve yang kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tinggi selama enam bulan ke depan untuk meredam inflasi. Suku bunga yang tinggi secara otomatis mengurangi daya tarik emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil langsung bagi para pemiliknya.
Meski harga sempat mengalami koreksi tipis sebesar 0,12% pada Jumat pagi menuju US$ 4698,27 per troy ons, pelaku pasar tetap mewaspadai dinamika ekonomi global. Ketidakpastian mengenai kebijakan moneter Federal Reserve dan dampak inflasi dari perang di Timur Tengah terus membayangi pergerakan harga emas di masa mendatang. Investor kini memantau perkembangan situasi Selat Hormuz sebagai penentu arah pergerakan pasar logam mulia dalam waktu dekat.
