Harga Emas Dunia Pulih di Tengah Tekanan Inflasi Global

Harga emas dunia bangkit dari titik terendah satu bulan pada perdagangan Kamis (30/4/2026). Para investor merespons positif kondisi pasar setelah harga emas sempat menyentuh level terendah sejak 31 Maret lalu. Data pasar menunjukkan kenaikan harga emas sebesar 0,43% ke posisi US$ 4.563,4 per ons troi. Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni pun ikut menguat sebesar 0,29% menuju level US$ 4.574,54 per ons troi.
Para Analis Mengamati Aksi Beli yang Mendorong Pemulihan Harga
Kepala analis pasar di KCM Trade, Tim Waterer, menyebutkan bahwa valuasi emas yang menarik memicu minat beli para trader saat harga turun. Aksi beli ini secara langsung mendukung pemulihan harga dari level terendah sebelumnya. Namun, Waterer menegaskan bahwa tekanan eksternal masih membatasi ruang gerak kenaikan harga emas di pasar global saat ini.
Lonjakan Harga Minyak Menghambat Laju Kenaikan Harga Emas
Kenaikan harga emas menghadapi hambatan serius akibat lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak Brent bertahan di atas US$ 120 per barel setelah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu. Kondisi geopolitik ini meningkatkan risiko gangguan pasokan di Timur Tengah dan memicu kekhawatiran inflasi yang lebih luas bagi pasar global.
Suku Bunga Tinggi Mengurangi Daya Tarik Aset Emas
Potensi inflasi yang meningkat mendorong ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga di level tinggi untuk waktu yang lebih lama. Meskipun para investor mengenal emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga tinggi justru mengurangi daya tarik investasi ini karena emas tidak memberikan imbal hasil tetap. Para pelaku pasar kini terus memantau kebijakan moneter The Fed untuk memprediksi arah pergerakan harga emas selanjutnya di tengah ketidakpastian ekonomi global.
