Harga Emas Global Bergerak Menuju Rekor Baru dalam Sepekan ke Depan

Analis pasar memproyeksikan harga emas dunia menembus level tertinggi baru
JAKARTA – Harga emas dunia diperkirakan melanjutkan tren penguatan dan bergerak menuju level tertinggi baru dalam sepekan ke depan. Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas berada di kisaran US$ 4.904 hingga US$ 5.100 per troy ons, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan permintaan lindung nilai.
Ibrahim menyampaikan bahwa harga emas dunia pada Sabtu pagi, 25 Januari 2026, ditutup di level US$ 4.985 per troy ons. Ia menjelaskan bahwa pergerakan harga pada awal pekan akan diuji oleh resistance pertama di level US$ 5.020, sementara support awal berada di area US$ 4.960.
Ketegangan geopolitik global terus mendorong minat terhadap emas
Menurut Ibrahim, faktor geopolitik masih menjadi pendorong utama kenaikan harga emas. Meskipun polemik terkait Greenland mulai mereda setelah Amerika Serikat dan NATO mencapai kesepakatan akses bersama, situasi global belum sepenuhnya kondusif. Hubungan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa justru tetap memanas, terutama setelah Eropa menolak bergabung dalam sejumlah inisiatif perdamaian yang diprakarsai Presiden AS Donald Trump.
Ketegangan di Timur Tengah juga kembali meningkat. Armada laut Amerika Serikat yang bergerak dari Laut Cina Selatan menuju kawasan tersebut memperkuat kekhawatiran pasar. Ancaman eskalasi konflik antara Israel dan Iran, termasuk isu pengembangan reaktor nuklir, turut meningkatkan permintaan aset aman seperti emas.
Perang dagang dan dinamika politik Amerika memperkuat sentimen safe haven
Dari sisi perdagangan global, Ibrahim menilai risiko perang dagang belum sepenuhnya mereda. Meskipun Amerika Serikat dan Eropa sepakat tidak mengenakan tarif baru, tarif sebesar 15% masih berpotensi berlaku pada Februari 2026. Bahkan, tambahan tarif sebelumnya telah mendorong total beban tarif hingga 25%, yang memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi global.
Di dalam negeri Amerika Serikat, dinamika politik juga menjadi perhatian pasar. Presiden Trump telah menyetujui empat kandidat gubernur Bank Sentral Amerika Serikat yang dinilai memiliki kedekatan politik. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap independensi kebijakan moneter dan memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Bank sentral dunia meningkatkan cadangan emas di tengah ketidakpastian
Ibrahim menambahkan bahwa faktor supply dan demand semakin menguatkan tren kenaikan emas. Bank Sentral China tercatat terus menambah cadangan devisanya dalam bentuk emas. Langkah serupa juga dilakukan oleh Bank Sentral Rusia, India, Eropa, dan Bank of England.
Di Indonesia, meskipun nilai tukar rupiah cenderung menguat, keterbatasan pasokan dan tingginya minat masyarakat membuat emas tetap diminati. Ibrahim menilai emas digital menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk tetap berinvestasi di tengah kondisi likuiditas yang terbatas.
