Harga Emas Dunia Anjlok dan Catat Koreksi Mingguan Terburuk sejak 2011
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4013697/original/070218700_1651632437-000_329D9UW.jpg)
Investor Melepas Emas Saat Kekhawatiran Perang AS-Iran Meningkat
Harga emas dunia terus melemah pada Jumat, 20 Maret 2026 waktu Jakarta, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak ekonomi dari konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Tekanan tersebut mendorong logam mulia ini mencatat kinerja mingguan terburuk dalam lebih dari satu dekade.
Mengutip CNBC pada Sabtu, 21 Maret 2026, harga kontrak berjangka emas turun 0,7% menjadi USD 4.574,90 per ounce. Sepanjang pekan itu, emas anjlok hingga 9,6%, yang menjadi penurunan mingguan terdalam sejak September 2011.
Penurunan Tajam Menempatkan Emas di Jalur Bulanan Terburuk
Tekanan yang terjadi sepanjang pekan juga membawa emas menuju kinerja bulanan terburuk sejak Oktober 2008. Meski demikian, secara tahunan harga emas masih mencatat kenaikan lebih dari 5% sepanjang 2026, yang mencerminkan penguatan signifikan sebelum konflik di kawasan Teluk Persia memanas.
Di sisi lain, harga perak turut mengalami tekanan. Kontrak berjangka perak turun lebih dari 2% menjadi USD 69,66, sekaligus mencatat level penutupan terendah sejak Desember. Dalam tiga pekan berturut-turut, perak melemah lebih dari 14% dan kini mencatat penurunan lebih dari 1% sepanjang tahun ini.
Volatilitas Pasar Energi Mengubah Sentimen Investor Global
Penurunan harga emas dan perak tidak terlepas dari tingginya volatilitas di pasar energi sejak konflik berlangsung. Harga minyak sempat melonjak hingga USD 112 per barel pada Jumat, yang meningkatkan kekhawatiran inflasi global.
Selain itu, tekanan juga meluas ke pasar saham. Indeks utama di Amerika Serikat, seperti Dow Jones Industrial Average dan Nasdaq Composite, mendekati koreksi setelah turun hampir 10% dari level tertinggi sebelumnya. Presiden Donald Trump bahkan menegaskan tidak menginginkan gencatan senjata dalam konflik dengan Iran, yang semakin memperkuat ketidakpastian pasar.
Analis Menilai Reli Emas Sebelumnya Mulai Kehilangan Momentum
Analis ekuitas logam dan pertambangan SP Angel, Arthur Parish, menilai volatilitas tajam yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir berkaitan dengan reli panjang emas sebelum konflik meningkat pada akhir Februari 2026.
Ia menjelaskan bahwa pergerakan harga saat ini menunjukkan pelemahan momentum setelah sebelumnya didorong oleh arus masuk investor dalam jumlah besar. Menurutnya, sebagian besar pergerakan tersebut berasal dari strategi perdagangan jangka pendek yang kini mulai mereda.
Investor Ritel dan Dana Spekulatif Mulai Keluar dari Pasar
Parish juga menyoroti bahwa selama reli besar pada 2025, banyak investor ritel, hedge fund sistematis, serta pelaku pasar umum masuk ke sektor logam mulia. Namun, dana tersebut tidak bersifat jangka panjang sehingga kini mulai keluar dari pasar.
Sementara itu, Kepala Investasi BRI Wealth Management, Toni Meadows, menegaskan bahwa harga emas sangat dipengaruhi oleh permintaan harian serta sentimen ketakutan di pasar. Ia menilai emas tidak selalu menjadi lindung nilai untuk setiap pergerakan aset berisiko dalam jangka pendek.
Permintaan Jangka Panjang Tetap Menentukan Arah Harga Emas
Meskipun volatilitas meningkat, analis menilai tren jangka panjang tetap menjadi penentu utama arah harga emas. Akumulasi emas oleh bank sentral sejak konflik Rusia-Ukraina sebelumnya turut membentuk tren kenaikan multi-tahun.
Namun, keluarnya investor jangka pendek saat ini dianggap sebagai proses penyesuaian yang dapat membuka ruang bagi penguatan kembali di masa depan. Dengan demikian, pergerakan harga emas akan sangat bergantung pada keseimbangan antara permintaan riil dan sentimen pasar global.
