Harga Emas Dekati US$ 5.000, Aset Aman Jadi Rebutan

Harga Emas Dunia Melonjak dan Mendekati US$ 5.000 saat Investor Berebut Aset Aman

ilustrasi harga emas. (Foto: AP/ Mark Baker)

Permintaan aset lindung nilai mendorong emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa

NEW YORK – Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa dan semakin mendekati level psikologis US$ 5.000 per ons troi pada Jumat, 23 Januari 2026. Lonjakan harga ini menegaskan posisi emas sebagai aset aman utama di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.

Pasar merespons ketidakpastian global dengan memborong emas

Penguatan harga emas terjadi seiring meningkatnya permintaan investor terhadap aset lindung nilai. Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan NATO, termasuk isu Greenland, memicu kekhawatiran pasar global. Pada saat yang sama, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral AS serta ketidakpastian kebijakan tarif mendorong arus dana keluar dari aset berisiko menuju emas.

Harga emas spot dan berjangka mencatat kenaikan signifikan

Harga emas spot melonjak 1,06% ke level US$ 4.988,6 per ons troi setelah sempat menyentuh rekor intraday di US$ 4.990,32 per ons troi. Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Februari naik lebih tajam sebesar 1,41% dan bertengger di posisi US$ 4.982,96 per ons troi. Pergerakan ini memperlihatkan konsistensi minat beli yang kuat di seluruh segmen pasar emas.

Pelaku pasar menilai reli emas mencerminkan perubahan perilaku investor

Pedagang logam independen Tai Wong menilai reli emas saat ini tidak sekadar lonjakan sesaat. Ia menegaskan bahwa peran emas sebagai aset lindung nilai dan instrumen diversifikasi portofolio menjadikannya kebutuhan strategis di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global. Menurut Wong, perilaku investor global kini mengalami pergeseran fundamental yang lebih berorientasi pada perlindungan nilai jangka panjang.

Bank sentral dan pelemahan dominasi dolar menopang harga emas

Selain faktor geopolitik, pembelian emas oleh bank sentral dunia turut menopang penguatan harga. Pergeseran global dari dominasi dolar AS dalam cadangan devisa mendorong emas menjadi alternatif utama. Sejak awal 2026, kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter, dan strategi diversifikasi cadangan telah memperkuat tren bullish logam mulia tersebut.