Harga Emas Kokoh di Atas US$ 4.600, tapi Prospek Masih Berliku

Harga emas bertahan di atas US$ 4.600 saat pelemahan dolar AS menopang pasar global

Ilustrasi emas batangan.

Harga emas dunia mempertahankan kekuatan di atas level US$ 4.600 per ons troi pada perdagangan Jumat, 1 Mei 2026, setelah pasar mencatat kenaikan hampir 2% pada sesi sebelumnya. Pelaku pasar mendorong penguatan ini ketika dolar Amerika Serikat melemah akibat laporan intervensi mata uang oleh Jepang, sehingga meningkatkan daya tarik emas di pasar global.

Harga emas juga bergerak stabil di level US$ 4.522,74 per ons troi pada saat laporan ini ditulis. Kondisi tersebut mendorong investor global meningkatkan permintaan karena emas menjadi lebih murah ketika dihargai dalam dolar yang melemah. Dengan demikian, sentimen positif tetap menopang pasar dalam jangka pendek meski volatilitas masih berlangsung.

Pasar global membayangi penurunan mingguan emas di tengah eskalasi geopolitik Timur Tengah

Pasar memperkirakan emas berpotensi mencatat penurunan mingguan kedua secara berturut-turut karena investor menilai kembali risiko geopolitik global. Ketidakpastian negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran menahan optimisme pasar, sementara tensi di kawasan Timur Tengah terus meningkat.

Ketegangan semakin memanas ketika Selat Hormuz belum menunjukkan tanda-tanda pembukaan kembali. Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan mendorong harga minyak berpotensi melonjak. Di sisi lain, Amerika Serikat mempertahankan kebijakan blokade terhadap pelabuhan Iran, sementara Iran menegaskan tidak menghentikan program nuklirnya dan tetap menjaga kontrol atas Selat Hormuz.

Situasi ini mendorong pelaku pasar memperkirakan bank sentral global mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bahkan, sebagian analis menilai peluang pengetatan moneter lanjutan tetap terbuka karena inflasi berpotensi meningkat akibat lonjakan harga energi.

Bank sentral global meningkatkan pembelian emas sebagai lindung nilai ketidakpastian

Di tengah tekanan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, World Gold Council mencatat bank sentral di berbagai negara terus menambah cadangan emas pada kuartal I-2026. Tren pembelian ini memperlihatkan meningkatnya kepercayaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai.

Akumulasi tersebut terjadi meskipun pasar menghadapi tekanan suku bunga tinggi dan volatilitas harga. Dengan kondisi global yang tidak stabil, emas tetap mempertahankan posisinya sebagai aset strategis yang dicari investor institusional maupun bank sentral.