PT Antam Menurunkan Harga Jual Emas Logam Mulia Hari Ini

PT Aneka Tambang (Antam) Tbk merevisi harga emas batangan pada perdagangan Senin, 27 April 2026. Perusahaan menetapkan harga emas 1 gram di butik LM Graha Dipta Pulo Gadung, Jakarta, sebesar Rp2.809.000 per batang. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar Rp16.000 dibandingkan harga pada perdagangan Sabtu lalu. Sebelumnya, PT Antam sempat mencatatkan kenaikan harga pada akhir pekan menuju posisi Rp2.825.000 per gram. Perubahan harga ini mencerminkan dinamika pasar yang cukup responsif terhadap pergerakan komoditas global.
Manajemen Menetapkan Harga Buyback Lebih Rendah
Manajemen juga menyesuaikan harga buyback atau pembelian kembali emas bagi para nasabah. Pihak PT Antam menerapkan harga buyback sebesar Rp2.620.000 per gram pada awal pekan ini. Nilai ini turun Rp16.000 dari harga buyback sebelumnya. Penyesuaian ini mengikuti pola perubahan harga jual emas batangan yang terjadi di gerai resmi Antam. Pemilik emas yang berencana mencairkan aset mereka kini menerima nilai yang sedikit lebih rendah dibandingkan akhir pekan kemarin. Langkah ini merupakan prosedur standar perusahaan dalam menyesuaikan nilai aset dengan kondisi pasar terkini.
Sentimen Global Mendorong Koreksi Harga Emas Domestik
Tren penurunan harga emas domestik mengikuti pelemahan harga logam mulia di pasar global. Refinitiv mencatat harga emas dunia jatuh sebesar 0,62% ke posisi US$ 4.679,32 per troy ons pada Senin pagi. Tekanan jual di pasar global belum menunjukkan tanda mereda setelah harga emas mingguan terkoreksi sekitar 2,5%. Pelemahan harga global ini memaksa PT Antam menyesuaikan nilai emas mereka demi menjaga keseimbangan pasar domestik. Para investor kini mencermati dinamika pasar yang masih volatil akibat berbagai sentimen ekonomi dunia. PT Antam tetap memantau perkembangan harga internasional untuk menentukan kebijakan harga setiap hari. Para pelaku pasar memerlukan kehati-hatian ekstra dalam mengambil keputusan investasi di tengah fluktuasi yang terjadi. Stabilitas harga di masa depan bergantung pada kebijakan moneter global dan kondisi geopolitik yang masih menjadi perhatian utama dunia saat ini.
