Harga Emas Antam Logam Mulia Ambles Rp35.000 pada Perdagangan 5 Mei 2026

Antam Menurunkan Harga Jual dan Buyback Emas di Tengah Tekanan Pasar Global
Harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk atau emas Antam Logam Mulia kembali melemah pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026. Penurunan ini melanjutkan tren koreksi yang sudah terjadi sejak perdagangan sebelumnya, sekaligus mencerminkan tekanan yang masih membayangi pasar logam mulia global.
Berdasarkan data dari situs resmi logammulia.com pada pukul 08.24 WIB, butik emas LM Graha Dipta Pulo Gadung, Jakarta, mematok harga emas Antam ukuran 1 gram di level Rp2.760.000 per batang. Harga tersebut turun Rp35.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya yang masih berada di level Rp2.795.000 per gram.
Koreksi tajam ini menjadi perhatian investor, terutama setelah harga emas domestik sempat mengalami pelemahan pada sesi perdagangan sebelumnya. Penurunan beruntun tersebut membuat pasar mulai mencermati arah baru harga logam mulia dalam jangka pendek.
Harga Buyback Ikut Turun Seiring Pelemahan Harga Emas Dunia
Selain menyesuaikan harga jual, Antam juga memangkas harga buyback atau pembelian kembali emas. Pada perdagangan hari ini, harga buyback tercatat berada di level Rp2.545.000 per gram. Posisi ini turun Rp40.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan harga emas domestik sejalan dengan pergerakan harga emas global yang juga mengalami tekanan cukup besar. Berdasarkan data Refinitiv, harga emas dunia pada perdagangan Senin, 4 Mei 2026, ditutup di level US$4.520,40 per troy ons. Harga tersebut terkoreksi 2,02% dalam sehari.
Dalam dua hari perdagangan terakhir, emas global telah kehilangan sekitar 2,2%. Bahkan, posisi penutupan tersebut menjadi level terendah sejak 30 Maret 2026 atau lebih dari satu bulan terakhir.
Pada perdagangan Selasa pagi, 5 Mei 2026 pukul 06.36 WIB, harga emas dunia masih bergerak melemah ke level US$4.519,30 per troy ons atau turun tipis 0,02%.
Tekanan terhadap harga emas muncul setelah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran meningkat. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS sekaligus memicu kekhawatiran inflasi global. Situasi ini membuat pelaku pasar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Di tengah kondisi tersebut, investor kini terus memantau arah pasar global untuk melihat apakah koreksi harga emas akan berlanjut atau justru membuka peluang pemulihan dalam waktu dekat.
