Harga Emas Melonjak, Pasar Deg-degan Tunggu Arah AS dan Iran

Harga Emas Menguat Saat Pasar Mengamati Arah Kebijakan AS dan Iran

ilustrasi emas. (Pluang/Istimewa)

Harga emas dunia menguat seiring pelemahan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik

Pasar keuangan global mencatat penguatan harga emas pada perdagangan Kamis, 9 April 2026, di New York. Investor mendorong kenaikan harga setelah dolar Amerika Serikat melemah dan ketidakpastian geopolitik kembali meningkat. Selain itu, pelaku pasar terus menilai arah inflasi global yang belum menunjukkan kepastian, sehingga emas kembali menarik minat sebagai aset lindung nilai.

Harga emas spot naik dan kontrak berjangka bergerak lebih tinggi di perdagangan global

Harga emas spot menguat 0,98 persen hingga mencapai US$4.765,65 per ons troi. Kenaikan ini terjadi setelah emas sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir tiga pekan pada sesi perdagangan sebelumnya. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat juga mencatat penguatan 0,27 persen dan bergerak ke level US$4.790,25 per ons troi. Pergerakan ini menunjukkan respons pasar yang tetap sensitif terhadap sentimen global.

Analis pasar menilai dolar lemah dan konflik Timur Tengah mendorong minat emas

Analis pasar menilai pelemahan indeks dolar Amerika Serikat menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas. Kondisi dolar yang melemah membuat emas menjadi lebih terjangkau bagi investor global sehingga permintaan meningkat. Senior market strategist RJO Futures, Bob Haberkorn, menegaskan bahwa kombinasi pelemahan mata uang dan ketidakpastian geopolitik memperkuat penguatan emas. Ia juga menyatakan bahwa pasar tetap berhati-hati dalam menilai dampak gencatan senjata yang masih belum stabil.

Ketegangan Timur Tengah berlanjut dan pasar tetap waspada terhadap gencatan senjata

Pelaku pasar terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah yang belum sepenuhnya mereda. Israel kembali melancarkan serangan ke sejumlah target di Lebanon, sementara Iran menegaskan sikapnya terkait wilayah yang masuk dalam kesepakatan gencatan senjata. Di sisi lain, ketidakpastian juga muncul karena belum ada indikasi Iran akan membuka kembali akses di Selat Hormuz. Situasi ini membuat investor tetap waspada terhadap potensi eskalasi yang dapat memengaruhi pasar global.