Harga Emas Global Diperkirakan Masih Bergerak Rapuh pada Pekan Depan

Analis memproyeksikan harga emas dunia tetap berada dalam fase konsolidasi pada pekan mendatang
Analis memperkirakan harga emas dunia masih bergerak dalam fase konsolidasi pada pekan depan meskipun pasar sempat mencatat reli selama tiga pekan berturut-turut. Sentimen pasar memang menunjukkan perbaikan, namun pelaku pasar tetap menahan diri karena prospek kenaikan harga dinilai belum kuat. Ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi menjadi faktor utama yang membatasi penguatan emas dalam jangka pendek.
Sebelumnya, harga emas sempat menembus level psikologis US$ 4.800 per ons troi setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara selama dua minggu. Namun, pasar tidak mampu mempertahankan penguatan tersebut karena sentimen kembali melemah setelah muncul keraguan terhadap stabilitas kesepakatan.
Harga emas terkoreksi setelah gagal mempertahankan level psikologis US$ 4.800 per ons troi
Harga emas tercatat melemah pada akhir perdagangan Jumat (10/4/2026) ketika turun 0,37% ke level US$ 4.748,18 per ons troi. Meskipun mengalami koreksi harian, emas masih membukukan penguatan mingguan sekitar 1,56%. Dengan capaian tersebut, emas tetap mencatatkan pekan positif untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Namun demikian, analis menilai tren tersebut belum cukup kuat untuk mendorong reli lanjutan. Pasar masih menunjukkan kerentanan karena harga berpotensi tertahan di bawah level US$ 5.000 per ons troi dalam jangka pendek. Kondisi ini memperlihatkan bahwa sentimen bullish belum sepenuhnya terbentuk secara solid.
Analis menilai ketidakpastian geopolitik menahan penguatan harga emas
Head of Futures and Forex Strategy Tastylive, Christopher Vecchio, menilai pasar emas belum memiliki pijakan kuat untuk melanjutkan penguatan. Ia menegaskan bahwa ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi membuat investor sulit mempertahankan optimisme.
Vecchio menjelaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran masih bersifat rapuh dan belum mengarah pada perdamaian yang stabil. Ia menambahkan bahwa ketidakjelasan arah konflik dapat memicu aksi likuidasi yang berpotensi menekan harga emas dalam jangka pendek.
Meski demikian, ia tetap mempertahankan pandangan bullish untuk jangka panjang karena emas masih dianggap sebagai aset lindung nilai utama di tengah risiko global.
Saxo Bank menilai pasar emas masih menunggu kepastian arah konflik Timur Tengah
Head of Commodity Strategy Saxo Bank, Ole Hansen, juga menilai pasar emas masih membutuhkan kepastian lebih lanjut terkait meredanya konflik di Timur Tengah. Ia menekankan bahwa keberlanjutan tren bullish hanya dapat terjadi jika risiko geopolitik benar-benar mereda.
Selain faktor konflik, Hansen juga menyoroti potensi kebijakan moneter Amerika Serikat. Ia menyebut bahwa pemulihan ekonomi yang disertai kemungkinan penurunan suku bunga The Fed dapat menjadi katalis tambahan bagi penguatan emas di masa depan.
Namun untuk saat ini, pasar masih bergerak hati-hati karena kombinasi faktor geopolitik dan inflasi terus membayangi pergerakan harga emas global.
