Harga Emas Global Tertekan Akibat Penguatan Dolar AS dan Kegagalan Negosiasi AS–Iran pada 13 April 2026

Pasar emas global mengalami tekanan setelah dolar AS menguat dan ketegangan geopolitik kembali meningkat
New York – Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Senin, 13 April 2026, setelah dolar Amerika Serikat menguat dan kekhawatiran inflasi meningkat akibat gagalnya negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran. Tekanan ganda ini membuat harga emas bergerak lebih rendah di tengah ketidakpastian pasar global.
Harga emas spot tercatat turun 0,17% dan ditutup pada level US$4.740,32 per ons troi. Sepanjang sesi perdagangan, harga emas sempat menyentuh posisi terendah sejak 7 April 2026. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ikut melemah 0,44% dan berakhir di level US$4.766,35 per ons troi.
Dolar AS menguat dan menekan daya tarik emas di pasar internasional
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas global pada awal pekan. Kondisi ini membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga menurunkan minat pembelian di pasar internasional.
Selain itu, pelaku pasar merespons perubahan sentimen global yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Kombinasi faktor tersebut membuat pergerakan emas semakin sensitif terhadap berita makroekonomi.
Pelaku pasar menyoroti harga minyak setelah negosiasi AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan
Pelaku pasar memusatkan perhatian pada perkembangan harga minyak mentah setelah negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan. Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures, Phillip Streible, menegaskan bahwa pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh sentimen berita, terutama yang berkaitan dengan energi.
Streible menjelaskan bahwa pergerakan harga minyak akan menentukan arah inflasi, yang pada akhirnya memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral. Oleh karena itu, setiap lonjakan harga energi langsung berdampak pada ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter.
Ketegangan geopolitik meningkat setelah AS dan Iran saling melontarkan ancaman baru
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah proses negosiasi damai antara AS dan Iran runtuh pada akhir pekan. Militer Amerika Serikat dilaporkan merencanakan blokade terhadap kapal-kapal yang meninggalkan pelabuhan Iran, sementara Teheran mengancam akan membalas dengan menargetkan pelabuhan negara tetangga di kawasan Teluk.
Situasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini sekaligus mempersempit ruang bagi bank sentral, termasuk The Federal Reserve, untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
Suku bunga tinggi menekan daya tarik emas meski inflasi meningkat
Suku bunga yang tetap tinggi menekan daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil. Meskipun demikian, emas tetap dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dalam kondisi pasar yang tidak stabil.
Namun, tekanan dari penguatan dolar, ketegangan geopolitik, dan ekspektasi kebijakan suku bunga membuat harga emas bergerak lebih volatil dalam jangka pendek.
