Di Balik Jebolnya Harga Emas ke Bawah Level US$ 5.000

Harga Emas Turun Tajam dan Jebol Level US$5.000 Akibat Tekanan Pasar Global

Ilustrasi emas batangan. (FOTO: REUTERS/Denis Balibouse)

World Gold Council Ungkap Faktor Utama yang Menekan Harga Emas

Jakarta, 14 April 2026 — Harga emas global mengalami tekanan signifikan hingga turun ke level terendah dalam lebih dari satu dekade. Pada Maret 2026, harga logam mulia ini merosot sekitar 12% dan menyentuh US$4.608 per troy ons, sekaligus menjadikannya posisi terlemah sejak Juni 2013. Penurunan ini juga menandai keluarnya emas dari level psikologis US$5.000 per troy ons yang sebelumnya sempat diantisipasi pelaku pasar.

Meski begitu, pergerakan emas masih menunjukkan fluktuasi tinggi. Pada penutupan perdagangan Senin, 13 April 2026, harga emas spot tercatat turun 0,17% ke US$4.740,32 per troy ons. Sepanjang sesi perdagangan, harga bahkan sempat menyentuh titik terendah sejak 7 April, menegaskan tekanan yang masih berlangsung di pasar.

Arus Keluar ETF dan Aksi Jual Besar Picu Penurunan Harga

World Gold Council mengidentifikasi sejumlah faktor yang mendorong penurunan harga emas melalui model analisis GRAM. Analis Kuantitatif Senior WGC, Johan Palmberg, menjelaskan bahwa tekanan terbesar berasal dari momentum pasar, termasuk arus keluar dana dari ETF emas global serta aksi pelepasan posisi beli di pasar berjangka COMEX.

Sejak awal Maret hingga 24 Maret 2026, ETF emas global mencatat arus keluar bersih sekitar 80 ton. Sebagian besar tekanan ini berasal dari investor ritel, terutama di pasar Amerika Serikat. Kondisi tersebut memicu penurunan permintaan yang signifikan dan mempercepat koreksi harga.

Aktivitas CTA dan Deleveraging Perparah Tekanan di Pasar

Selain itu, aksi jual juga meningkat akibat aktivitas Commodity Trading Advisors yang sebelumnya memegang posisi beli besar. Ketika harga emas menembus rata-rata pergerakan 50 hingga 55 hari pada pertengahan Maret, pelaku CTA langsung melepas posisi secara agresif. Langkah ini mempercepat penurunan harga dalam waktu singkat.

Di sisi lain, tekanan juga datang dari fenomena deleveraging lintas aset. Tingginya utang margin di pasar saham mendorong aksi jual besar-besaran di berbagai sektor, terutama di indeks S&P 500. Dalam situasi tersebut, investor turut melepas emas untuk memenuhi kebutuhan likuiditas, sehingga harga semakin tertekan.

Penguatan Dolar dan Imbal Hasil Tambah Beban Emas

Faktor eksternal seperti penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil juga ikut memperburuk kondisi. Kedua faktor ini membuat emas menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen investasi lain yang memberikan imbal hasil.

Meski demikian, analis menilai bahwa penurunan ini tidak sepenuhnya mencerminkan pelemahan fundamental emas. Sebaliknya, kondisi ini lebih dipengaruhi kombinasi sentimen pasar, tekanan likuiditas, serta perubahan posisi investor dalam jangka pendek.