BERITA POPULER: Arah Harga Emas menurut Pakar hingga Update Emas Perhiasan

Investor.id Menghimpun Berita Populer Seputar Emas, Saham, dan Pasar Modal pada Awal Mei 2026

Ilustrasi beragam ukuran emas batangan. ( Foto: Thomas Samson/AFP/Getty Images )

Bank of America mempertahankan proyeksi bullish harga emas di tengah tekanan inflasi global

Bank of America (BofA) mempertahankan pandangan optimistis terhadap harga emas dunia meski pasar komoditas masih menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak. Lembaga keuangan asal Amerika Serikat itu menilai risiko inflasi tetap tinggi dan mendukung permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Dalam riset terbarunya, BofA tetap memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$ 6.000 dalam 13 bulan ke depan, sekaligus menaikkan estimasi rata-rata harga emas 2026 menjadi US$ 5.093 per ons. Para analis juga mencatat ketidakpastian kebijakan fiskal AS dan pelemahan dolar turut memperkuat prospek logam mulia tersebut.

Investor memantau fluktuasi harga emas perhiasan di berbagai produsen pada awal Mei 2026

Pelaku pasar memantau pergerakan harga emas perhiasan dari berbagai produsen seperti BSI, Hartadinata Abadi, Lotus Archi, dan Minigold pada Jumat, 1 Mei 2026. Harga emas bergerak bervariasi mengikuti kondisi pasar global dan permintaan ritel. Investor ritel terus meningkatkan minat terhadap emas pecahan kecil karena kemudahan pembelian bertahap dan likuiditas yang lebih fleksibel. Pergerakan harga juga dipengaruhi nilai tukar, kebijakan bank sentral, serta dinamika industri perhiasan global.

Investor mencermati pergerakan saham, dividen, dan aksi jual asing di pasar modal Indonesia

Investor memantau sejumlah peristiwa pasar modal, termasuk rencana pembagian dividen Bank Mandiri senilai Rp 35,14 triliun untuk tahun buku 2025. Di sisi lain, saham BBCA mengalami tekanan signifikan akibat aksi jual asing yang mencapai Rp 4,17 triliun dalam sepekan dan penurunan harga hingga mendekati level terendah lima tahun. Sementara itu, saham ICBP milik Grup Salim juga mencatat penurunan kinerja jangka panjang meski masih menunjukkan valuasi relatif lebih rendah dibanding rata-rata historisnya.

Analis pasar global menilai emas tetap berpotensi menguat meski mengalami koreksi jangka pendek

Bank of America kembali menegaskan proyeksi jangka panjang emas yang tetap positif meski harga spot sempat melemah ke sekitar US$ 4.604 per ons. Analis menilai pasar masih berada dalam fase konsolidasi akibat minimnya katalis perdagangan global dan libur pasar di sejumlah negara besar. Selain itu, lonjakan harga minyak dan potensi inflasi global memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral utama, termasuk The Fed, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Pasar keuangan Indonesia mencatat tekanan rupiah dan stabilitas sektor jasa keuangan

Pelaku pasar juga mencermati pelemahan rupiah yang menembus Rp 17.424 per dolar AS akibat meningkatnya permintaan valuta asing musiman. Meski demikian, Otoritas Jasa Keuangan menegaskan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah gejolak global. Pemerintah dan regulator terus memantau dinamika pasar untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas ekonomi domestik.