Permintaan Emas India Melemah Sementara China Catat Kenaikan Premi Jelang Libur Panjang

MUMBAI – Permintaan emas di India menunjukkan pelemahan pada pekan ini seiring tekanan volatilitas harga global dan melemahnya nilai tukar rupee. Kondisi tersebut membuat minat beli emas di pasar domestik India melambat setelah periode perayaan festival.
Sebaliknya, pasar emas China justru mencatat penguatan dengan kenaikan premi menjelang libur panjang Hari Buruh, yang mendorong aktivitas perdagangan tetap solid di kawasan tersebut.
Pelaku Pasar India Menurunkan Aktivitas Pembelian Setelah Festival
Pelaku pasar mencatat penurunan permintaan emas di India terjadi setelah berakhirnya festival Akshaya Tritiya yang selama ini menjadi pendorong utama konsumsi emas ritel.
Managing Director CapsGold, Chanda Venkatesh, menjelaskan kunjungan ke toko perhiasan turun signifikan pasca festival. Ia menegaskan penurunan aktivitas tersebut berdampak langsung pada melemahnya pembelian emas di tingkat konsumen.
Seiring dengan itu, dealer emas di India mulai menawarkan diskon hingga US$ 5 per ons, atau menetapkan premi hingga US$ 9 per ons di atas harga domestik resmi yang sudah termasuk bea impor dan pajak penjualan.
Dealer Menyesuaikan Harga di Tengah Penurunan Premi Pasar
Tekanan permintaan membuat premi emas di India ikut menurun dari pekan sebelumnya. Sebelumnya, premi sempat mencapai US$ 15 per ons, level tertinggi sejak awal Februari 2026, sebelum akhirnya terkoreksi akibat pelemahan minat beli.
Penurunan tersebut mencerminkan perubahan sentimen pasar setelah periode permintaan tinggi selama musim festival, ketika konsumen biasanya meningkatkan pembelian emas untuk kebutuhan perhiasan dan investasi.
Harga Emas Domestik India Bergerak di Kisaran Tinggi
Harga emas di pasar domestik India tercatat berada di kisaran 150.300 rupee per 10 gram atau setara sekitar Rp27,47 juta dengan kurs Rp182,77. Angka tersebut terjadi setelah sebelumnya harga sempat menyentuh level tertinggi satu bulan di 155.065 rupee pada awal April 2026.
Kondisi harga yang masih tinggi ikut menahan laju pembelian baru, terutama di kalangan ritel yang sensitif terhadap perubahan harga jangka pendek.
Pasokan Perhiasan Bekas Menahan Permintaan Baru
Pelaku industri juga mencatat peningkatan pasokan emas dari aktivitas tukar tambah perhiasan lama. Kondisi tersebut membuat toko emas tidak agresif melakukan pembelian stok baru karena kebutuhan pasokan sudah terpenuhi sebagian.
Seorang dealer bullion di Mumbai menjelaskan bahwa tingginya volume perhiasan lama yang masuk kembali ke pasar ikut menekan permintaan pembelian baru. Ia menilai tren ini berpotensi berlanjut selama harga emas masih berada di level tinggi.
Permintaan Global Tetap Tumbuh Meski Sektor Perhiasan Melemah
Secara global, harga emas masih mencatat kenaikan sekitar 11% sejak awal tahun 2026. Kenaikan tersebut didorong oleh pembelian emas batangan, koin, serta akumulasi bank sentral dunia.
Namun demikian, World Gold Council mencatat permintaan perhiasan global justru turun 23% pada kuartal pertama 2026, menunjukkan adanya pergeseran pola konsumsi emas di pasar internasional.
