Ahli Bongkar Fakta Emas: Kuat, tapi Bisa Ambruk Jika Faktor Ini Melonjak

Ahli Ungkap Ketahanan Harga Emas di Tengah Tekanan Global dan Risiko Lonjakan Harga Minyak

Ilustrasi perdagangan emas. (Treasury)

JAKARTA – Harga emas dunia masih menunjukkan daya tahan di tengah tekanan ekonomi global dan gejolak geopolitik yang terus berkembang. Meski menghadapi berbagai sentimen negatif, logam mulia tersebut tetap bertahan di atas level US$ 4.600 per ons troi pada perdagangan awal Mei 2026.

Namun demikian, para analis menilai arah pergerakan emas dalam jangka pendek masih sangat bergantung pada perkembangan harga energi global, terutama minyak mentah, yang terus dipengaruhi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Bart Melek Soroti Harga Minyak Sebagai Ancaman Baru bagi Emas

Head of Commodity Strategy TD Securities, Bart Melek, menjelaskan lonjakan harga minyak menjadi faktor utama yang dapat menghambat penguatan harga emas dalam waktu dekat. Menurutnya, kenaikan energi langsung meningkatkan tekanan inflasi global dan memengaruhi arah kebijakan bank sentral utama dunia.

Bart Melek menegaskan bahwa inflasi yang lebih tinggi berpotensi membuat bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Kondisi itu pada akhirnya menjaga imbal hasil riil tetap tinggi dan meningkatkan biaya peluang bagi investor yang memegang emas.

Ia juga menambahkan bahwa tekanan tersebut mulai memengaruhi minat investor institusi, termasuk dana berbasis exchange traded fund serta bank sentral, yang terlihat lebih berhati-hati sejak konflik regional memanas.

Analisis Teknikal Tunjukkan Harga Emas Masih Bertahan Kuat

Di sisi teknikal, harga emas masih menunjukkan struktur tren yang relatif solid. Pada perdagangan terbaru, emas bergerak di kisaran US$ 4.630 per ons troi dan tetap berada jauh di atas rata-rata pergerakan 200 hari yang berada di area US$ 4.258 per ons troi.

Posisi tersebut menunjukkan bahwa tren naik jangka panjang masih terjaga. Selama level teknikal utama tersebut mampu dipertahankan, pasar masih melihat peluang penguatan emas dalam jangka menengah hingga panjang.

Meski demikian, Bart Melek mengingatkan bahwa risiko koreksi tetap terbuka apabila harga minyak kembali melonjak tajam. Lonjakan energi dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lama, yang biasanya menekan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Investor kini terus mencermati perkembangan pasar energi, arah kebijakan moneter global, serta dinamika geopolitik yang berpotensi menentukan pergerakan emas sepanjang kuartal kedua 2026.