Harga Emas Makin Babak Belur, Cuma Trump yang Bisa Selamatkan

Harga Emas Dunia Mengalami Tekanan Berat Akibat Ketidakpastian Suku Bunga

Singapura Punya Cadangan Emas 240 Ton, Kok RI Cuma 78 ton?

Pasar logam mulia dunia menghadapi tantangan berat setelah harga emas jatuh ke level terendah dalam satu bulan terakhir. Data Refinitiv mencatat harga emas ditutup pada posisi US$ 4.541,75 per troy ons pada perdagangan Rabu (29/4/2026), yang berarti harga melemah 1,14%. Tren negatif ini memperpanjang pelemahan emas selama tiga hari beruntun dengan total koreksi mencapai 3,55%. Meskipun harga emas sempat menunjukkan sedikit pemulihan pada Kamis (30/4/2026) pagi dengan kenaikan 0,22% ke level US$ 4.551,59 per troy ons, pelaku pasar tetap bersikap waspada terhadap dinamika ekonomi global.

Pejabat Federal Reserve Mempertahankan Suku Bunga dengan Suara Terpecah

Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), memutuskan untuk menahan suku bunga dalam rapat kebijakan moneter pekan ini. Namun, pengambilan keputusan tersebut berlangsung alot dan mencatat perbedaan pendapat paling sengit sejak tahun 1992. Tiga pejabat bank sentral bahkan menolak pernyataan resmi karena tidak setuju dengan sinyal bias penurunan suku bunga. Kondisi ini menekan harga emas karena pelaku pasar kini memprediksi The Fed tidak akan memangkas suku bunga, baik tahun ini maupun dalam waktu dekat. Trader logam independen, Tai Wong, menegaskan bahwa perbedaan pandangan di internal bank sentral memberikan tekanan jual yang signifikan terhadap aset emas.

Investor Mencermati Lonjakan Harga Minyak dan Permintaan Global

Pasar terus mengkhawatirkan tekanan inflasi yang semakin meningkat seiring harga minyak global yang bertahan di atas US$ 100 per barel. Konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran memicu kenaikan harga energi, yang secara tidak langsung merugikan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Analis pasar memperingatkan bahwa selama kesepakatan damai belum tercapai, prospek harga emas tetap berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian.

Di tengah kondisi pasar yang volatil, Dewan Emas Dunia melaporkan pertumbuhan positif pada permintaan emas global sebesar 2% secara tahunan pada kuartal pertama 2026. Peningkatan ini bersumber dari aksi borong emas batangan, koin, serta akumulasi cadangan oleh bank sentral. Meskipun permintaan perhiasan global mencatat penurunan sebesar 23%, solidnya minat investor terhadap emas fisik tetap memberikan dukungan fundamental bagi pasar di tengah badai ekonomi saat ini.