Harga Emas Diramal Ngegas Lagi, Pasar Cium Bau Damai Timur Tengah

Harga Emas Dunia Menguat Didorong Ekspektasi Damai Timur Tengah

Gold bars of various values are stored in a safe deposit room in Munich, Germany, January 28, 2026. REUTERS/ Angelika Warmuth

Pasar Global Respon Positif terhadap Indikasi Meredanya Ketegangan Iran-AS

Jakarta – Harga emas dunia kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan terbaru, Rabu 1 April 2026, setelah sebelumnya sempat tertekan. Lonjakan ini dipicu meningkatnya harapan meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah serta pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Logam mulia sempat turun ke level US$ 4.482 per ons sebelum berbalik arah dan naik ke kisaran US$ 4.648 per ons. Di Indonesia, harga emas Antam merespons penguatan global dengan melonjak Rp 75.000 per gram menjadi Rp 2.902.000.

Analisis Teknikal Tunjukkan Tren Bullish Jangka Pendek

Dupoin Futures mencatat pergerakan emas (XAU/USD) menunjukkan tren bullish dalam jangka pendek. Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menjelaskan bahwa pola candlestick dan indikator moving average pada timeframe satu jam (H1) menandakan tekanan beli masih dominan. Dia memprediksi, selama tekanan bullish berlanjut, harga emas berpotensi menguji level resistance US$ 4.862 per ons, sementara level support terdekat berada di US$ 4.539 per ons jika terjadi koreksi.

Pelemahan Dolar AS dan Turunnya Imbal Hasil Obligasi Perkuat Daya Tarik Emas

Penguatan emas juga didukung oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke level 4,31%, yang menyebabkan dolar AS melemah. Indeks Dolar AS (DXY) turun ke posisi 99,91, meningkatkan minat investor global terhadap emas. Selain itu, data ekonomi AS yang menunjukkan pelemahan sektor tenaga kerja memperkuat sinyal perlambatan ekonomi, sehingga emas menjadi aset yang lebih menarik untuk lindung nilai.

Investor Perlu Pantau Geopolitik dan Kebijakan Moneter Global

Meski tekanan inflasi masih tinggi akibat kenaikan harga energi, pernyataan pejabat Federal Reserve menegaskan pentingnya menjaga kredibilitas kebijakan moneter. Gabungan sentimen geopolitik, pelemahan dolar, dan dukungan faktor teknikal membuat harga emas diperkirakan tetap bergerak volatil dengan kecenderungan menguat. Investor disarankan terus memantau perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global untuk mengambil keputusan jual atau beli yang tepat.