Harga Emas dan Perak Tertekan di Awal Pekan akibat Sentimen Pasar dan Geopolitik
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4013693/original/013633000_1651632346-000_329D9VG.jpg)
Harga emas dan perak sama-sama mengalami tekanan pada perdagangan Senin, 23 Maret 2026. Penurunan ini terjadi di tengah dinamika pasar global yang dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik serta arah kebijakan ekonomi dari bank sentral.
Pada Selasa, 24 Maret 2026 waktu Jakarta, harga emas sempat melemah tajam di awal sesi sebelum akhirnya pulih. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global dalam waktu singkat.
Harga emas sempat anjlok lebih dari 5 persen sebelum berbalik menguat
Di pasar spot, harga emas turun lebih dari 5 persen hingga menyentuh USD 4.262,50 per ons pada awal perdagangan. Namun, setelah tekanan mereda, harga kembali naik dan diperdagangkan di kisaran USD 4.431,09 per ons.
Sementara itu, harga emas berjangka tercatat turun 0,7 persen menjadi USD 4.574 per ons, meskipun sebelumnya sempat mengalami penurunan mendekati 10 persen. Fluktuasi tajam ini mencerminkan ketidakpastian yang masih membayangi pasar logam mulia.
Pernyataan Donald Trump meredakan ketegangan dan memicu pemulihan harga
Pemulihan harga emas terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Keputusan ini muncul usai pembicaraan yang dinilai berjalan baik antara kedua negara.
Langkah tersebut langsung meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik yang lebih luas. Akibatnya, minat investor terhadap aset berisiko mulai meningkat, sehingga tekanan terhadap emas sebagai aset lindung nilai berkurang.
Kinerja mingguan menunjukkan penurunan tajam sejak rekor tertinggi
Secara keseluruhan, harga emas telah kehilangan hampir 10 persen sepanjang pekan lalu. Penurunan ini menjadi yang terburuk sejak September 2011.
Jika dibandingkan dengan rekor tertinggi di akhir Januari 2026 yang mencapai USD 5.594,92 per ons, harga emas kini telah turun sekitar 25 persen. Koreksi ini menandai perubahan signifikan dalam tren jangka pendek.
Harga perak bergerak berlawanan arah dan mulai menunjukkan pemulihan
Berbeda dengan emas, harga perak justru mencatat kenaikan. Harga perak spot naik 3,3 persen menjadi USD 69,97 setelah sebelumnya menyentuh titik terendah sepanjang 2026.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa masing-masing logam mulia merespons kondisi pasar dengan cara yang berbeda, tergantung pada faktor permintaan dan sentimen investor.
Pelaku pasar mengalihkan fokus ke suku bunga dan imbal hasil obligasi
Tekanan terhadap emas juga muncul seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga. Kondisi ini mendorong investor beralih ke obligasi pemerintah yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan emas.
Selain itu, konflik Iran turut memicu kekhawatiran inflasi dan lonjakan harga energi. Situasi ini memperkuat pergeseran alokasi aset di kalangan investor global.
Analis melihat perubahan strategi pasar dan potensi tekanan lanjutan
Sejumlah analis menilai pasar tengah mengalami pergeseran dari fase akumulasi menuju pelestarian modal. Nic Puckrin dari Coin Bureau menyebut kondisi ini sebagai akhir dari reli panjang emas yang terjadi sebelumnya.
Di sisi lain, sebagian analis tetap memandang koreksi ini sebagai fase sementara. Mereka menilai faktor fundamental seperti inflasi dan ketidakpastian geopolitik masih berpotensi mendukung harga emas dalam jangka panjang.
