Harga Emas Rawan Rontok! Gagal Sentuh US$4.900/ons

Harga Emas Dunia Gagal Menembus US$4.900 dan Mulai Kehilangan Tenaga

emas gold

Jakarta – Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, namun pergerakannya mulai menunjukkan tanda pelemahan setelah gagal menembus level psikologis US$4.900 per troy ons. Meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Greenland menjadi katalis yang memicu aksi ambil untung di pasar logam mulia.

Pada perdagangan Kamis, 22 Januari 2026 hingga pukul 06.18 WIB, harga emas dunia di pasar spot melemah 0,64% dan bergerak di level US$4.805,41 per troy ons. Koreksi ini terjadi setelah sehari sebelumnya emas mencatat kenaikan signifikan dan mendekati area psikologis baru.

Sehari sebelumnya, Rabu, 21 Januari 2026, harga emas dunia menguat 1,53% dan ditutup di posisi US$4.836,14 per troy ons. Dalam perdagangan intraday, harga emas bahkan sempat melonjak ke rekor tertinggi sepanjang masa di US$4.887,82 per troy ons. Meski hanya terpaut tipis dari level US$4.900, harga emas akhirnya gagal mempertahankan momentum dan ditutup lebih rendah.

Meredanya Isu Greenland Tekan Harga Emas

Tekanan terhadap harga emas muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melunakkan sikapnya terkait Greenland. Trump menarik kembali ancaman penggunaan tarif dan menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan untuk merebut wilayah tersebut. Pernyataan ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik geopolitik yang lebih luas.

Dalam perjalanan menuju pertemuan tahunan World Economic Forum di Davos, Swiss, Trump menyatakan bahwa kesepakatan jangka panjang dengan sekutu Barat terkait keamanan Arktik dan akses mineral strategis berada di depan mata. Pernyataan tersebut langsung disambut positif oleh pasar saham, namun justru menekan harga emas sebagai aset lindung nilai.

Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures, menilai pasar merespons cepat perubahan sentimen geopolitik. Ia menyebut aksi likuidasi terjadi akibat reaksi terhadap berita utama, meski tren jangka panjang emas belum sepenuhnya berbalik arah.

Prospek Suku Bunga Tetap Menopang Tren Jangka Panjang

Di luar faktor geopolitik, prospek kebijakan moneter Amerika Serikat masih menjadi penopang utama harga emas. Sejumlah hakim Mahkamah Agung AS mengisyaratkan skeptisisme terhadap upaya Presiden Trump untuk mencopot Gubernur The Federal Reserve Lisa Cook, yang dinilai dapat mengganggu independensi bank sentral.

Mayoritas ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya setidaknya hingga kuartal ini dan kemungkinan hingga masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell berakhir pada Mei mendatang. Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah tetap menguntungkan emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.

Sepanjang 2025, harga emas melonjak sekitar 64% dan telah naik sekitar 11% sejak awal 2026. Meski rawan koreksi jangka pendek, emas masih mempertahankan daya tariknya sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global.