Harga Emas Bergejolak, HRTA Buka-bukaan soal Prospeknya

Hartadinata Abadi Nilai Gejolak Harga Emas Tidak Ubah Prospek Jangka Menengah

Emasku dari Hartadinata Abadi (HRTA) Sumber; Ist

JAKARTA – Pergerakan harga emas global yang sempat melonjak tajam lalu terkoreksi dalam beberapa hari terakhir tidak menggerus prospek jangka menengah logam mulia tersebut. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menegaskan volatilitas justru memperlihatkan fungsi emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Manajemen menilai dinamika harga yang fluktuatif merupakan respons wajar pasar terhadap sentimen global. Di sisi lain, kondisi tersebut tetap menjaga daya tarik emas sebagai instrumen penyimpan nilai, terutama ketika risiko geopolitik dan tekanan fiskal meningkat.

Harga Emas Global Cetak Rekor Lalu Terkoreksi Tajam

Harga emas dunia mencatat rekor tertinggi sepanjang masa pada 29 Januari 2026 di level US$ 5.594 per ons troi. Posisi itu melonjak dari kisaran US$ 4.372 per ons troi pada awal tahun, sehingga secara year to date dan month to date harga naik sekitar 24%.

Dalam denominasi rupiah, kenaikan bahkan lebih tinggi. Harga sempat menyentuh Rp 3.021.839 per gram atau tumbuh sekitar 28% YTD dan MTD, seiring pelemahan rupiah ke level Rp 16.790 per dolar Amerika Serikat.

Namun reli tersebut tidak berlangsung mulus. Harga emas global kemudian terkoreksi lebih dari 10% dan sempat turun ke kisaran US$ 4.400 per ons troi. Pasar merespons penguatan dolar AS serta ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang lebih ketat.

Hartadinata Abadi Soroti Peluang di Tengah Volatilitas

Direktur Investor Relations HRTA Thendra Crisnanda menyatakan koreksi jangka pendek justru membuka peluang akumulasi bagi masyarakat yang ingin menabung emas untuk jangka panjang. Ia menilai emas tetap likuid dan cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan sentimen global.

Menurutnya, ketidakpastian geopolitik dan risiko fiskal di AS terus mendorong minat investor terhadap emas. Inflasi AS yang stabil di kisaran 2% serta kebijakan suku bunga yang dipertahankan juga menjaga ekspektasi pasar. Di dalam negeri, Bank Indonesia menahan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah, sementara inflasi Desember 2025 tercatat 2,9% dan masih berada dalam target. Pemerintah pun memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 sekitar 5%.

Permintaan global tetap solid, tercermin dari pembelian emas oleh bank sentral dunia. Data perdagangan Swiss menunjukkan ekspor emas Swiss melonjak 27% secara bulanan pada Desember 2025. Sementara itu, World Gold Council mencatat Amerika Serikat memegang cadangan emas terbesar dunia sebesar 8.133 ton, diikuti negara-negara Eropa serta China.