Analis Memetakan Arah Harga Emas Dunia di Tengah Geopolitik dan Kebijakan Moneter

JAKARTA — Harga emas dunia kembali bergerak dinamis pada perdagangan Rabu, 21 Januari 2026, seiring pasar merespons perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Pada sesi Amerika Utara, emas spot XAU/USD menguat sekitar 0,25 persen dan diperdagangkan di kisaran US$ 4.772 per troy ounce, mencerminkan minat investor yang tetap solid terhadap aset lindung nilai.
Penguatan tersebut terjadi setelah harga emas sempat menyentuh rekor tertinggi baru di level US$ 4.888 per troy ounce. Namun, pasar kemudian melakukan koreksi terbatas menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menegaskan bahwa opsi militer terkait isu Greenland tidak akan ditempuh. Klarifikasi ini meredakan sebagian ketegangan, meski belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran pelaku pasar.
Analis Teknikal Menilai Tren Emas Masih Mengarah Naik
Analis Dupoin Indonesia Andy Nugraha menilai struktur teknikal pergerakan emas masih mencerminkan tren naik yang kuat. Ia menjelaskan bahwa posisi harga yang bertahan di atas indikator moving average utama menunjukkan dominasi tekanan beli di pasar.
Andy menilai koreksi yang terjadi merupakan bagian dari pergerakan sehat dalam tren bullish yang lebih besar. Ia menyebutkan bahwa selama harga mampu bertahan di atas area support kunci, peluang penguatan lanjutan tetap terbuka dalam waktu dekat.
Proyeksi Jangka Pendek Membuka Peluang Uji US$ 4.900
Dalam proyeksi jangka pendek, Andy Nugraha memperkirakan emas berpotensi kembali menguji area US$ 4.900 apabila sentimen positif tetap terjaga. Sebaliknya, jika tekanan jual meningkat, ia menilai area US$ 4.756 menjadi support terdekat yang krusial untuk menjaga kesinambungan tren naik.
Pergerakan emas pada sesi Asia Kamis, 22 Januari 2026, sempat memangkas penguatan dan bergerak di sekitar US$ 4.790. Pasar merespons keputusan Presiden Trump yang menarik kembali ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa serta mengumumkan adanya kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland.
Faktor Fundamental Menjaga Daya Tarik Emas
Laporan Bloomberg menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan NATO telah menyepakati kerangka kerja tertentu yang memicu harapan penyelesaian diplomatik. Meski sempat menekan permintaan emas sebagai safe haven, dampaknya dinilai terbatas karena detail kesepakatan masih belum jelas.
Pelaku pasar juga menantikan rilis data ekonomi Amerika Serikat, termasuk pertumbuhan ekonomi, klaim pengangguran, dan inflasi PCE. Data yang mengindikasikan perlambatan ekonomi berpotensi melemahkan dolar AS dan kembali menopang harga emas. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan The Fed, analis menilai prospek emas tetap cenderung positif dengan volatilitas jangka pendek yang wajar.
