Harga Perak Dunia Menembus Rekor Baru di Tengah Ketegangan Global

JAKARTA — Harga perak dunia kembali melanjutkan reli kuat dan mencetak rekor tertinggi baru pada pekan ini. Dorongan sentimen geopolitik, pelemahan dolar Amerika Serikat, serta ekspektasi penurunan suku bunga The Federal Reserve memperkuat daya tarik perak di pasar global.
Mengutip CNBC pada Jumat, 23 Januari 2026, harga perak spot melonjak hingga menyentuh level US$ 96,58 per troy ons pada Kamis, 22 Januari 2026 waktu Amerika Serikat. Level ini menandai rekor tertinggi baru sepanjang sejarah perdagangan perak.
Pasar Merespons Ketegangan Geopolitik dan Pelemahan Dolar AS
Reli harga perak menguat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong investor mencari aset lindung nilai. Di saat yang sama, dolar AS bergerak melemah, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia yang diperdagangkan dalam denominasi dolar.
Selain faktor makro tersebut, pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut memicu lonjakan harga. Trump menyampaikan bahwa Amerika Serikat telah mengamankan akses total dan permanen ke Greenland melalui kesepakatan dengan NATO. Pernyataan ini langsung memicu respons pasar meskipun detail kesepakatan belum diungkap secara jelas.
Ketidakpastian Kesepakatan Greenland Menjaga Volatilitas Pasar
Meski pernyataan Trump memicu sentimen risk-off, ketidakjelasan isi kesepakatan tersebut tetap menjaga volatilitas pasar. Denmark secara tegas menyatakan bahwa kedaulatan atas Greenland tidak dapat diperdebatkan, sehingga meningkatkan ketidakpastian geopolitik di kawasan tersebut.
Situasi ini mendorong investor mempertahankan posisi pada aset aman, termasuk perak, yang dinilai mampu memberikan perlindungan nilai di tengah gejolak politik dan ekonomi global.
Data Ekonomi AS dan Ekspektasi The Fed Menguatkan Reli Perak
Selain faktor geopolitik, rilis terbaru laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi Amerika Serikat turut mendukung penguatan perak. Data tersebut menunjukkan peningkatan pengeluaran konsumen pada Oktober dan November 2025, yang mencerminkan pertumbuhan ekonomi kuat selama tiga kuartal berturut-turut.
Di sisi kebijakan moneter, pasar mengantisipasi The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali, masing-masing seperempat poin persentase, pada paruh kedua tahun 2026. Ekspektasi ini memperkuat prospek logam mulia karena suku bunga yang lebih rendah cenderung menguntungkan aset tanpa imbal hasil seperti perak.
Analis pasar senior Tradu, Nikos Tzabouras, menilai perak memiliki fundamental yang semakin menarik. Ia menyebut perak memang bukan aset cadangan seperti emas, tetapi tetap memperoleh manfaat dari arus dana aman dan pelemahan dolar AS.
