Harga Emas Dunia Turun Enam Hari Beruntun Setelah The Fed Tahan Suku Bunga
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
The Fed Menahan Suku Bunga dan Menekan Pergerakan Harga Emas
Harga emas dunia melemah tajam setelah bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Keputusan tersebut langsung memicu tekanan di pasar logam mulia meskipun langkah ini sudah sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar.
Pada perdagangan Kamis, 19 Maret 2026, harga emas spot tercatat turun 2,2 persen ke level USD 4.895,61 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas ikut merosot 2,4 persen menjadi USD 4.889,80 per ounce.
The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen. Meski demikian, bank sentral masih membuka peluang satu kali penurunan suku bunga pada 2026.
Dalam pernyataan resminya, The Fed juga menyesuaikan proyeksi ekonomi dengan memperkirakan pertumbuhan Amerika Serikat mencapai 2,4 persen tahun ini, disertai inflasi yang diprediksi lebih tinggi.
Tekanan Inflasi dan Energi Memperpanjang Tren Pelemahan Emas
Tekanan terhadap harga emas berlanjut dalam sesi perdagangan Asia. Harga emas bahkan sempat turun ke kisaran USD 4.830 per ounce, menandai pelemahan selama enam hari berturut-turut dan menjadi tren terburuk sejak akhir 2024.
Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell turut memengaruhi sentimen pasar. Ia menilai kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi tetap tinggi, sehingga kebijakan moneter cenderung tetap ketat lebih lama.
The Fed kembali menahan suku bunga dalam pertemuan Maret, yang menjadi keputusan kedua berturut-turut tanpa perubahan. Langkah ini diambil di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu inflasi tinggi dan konflik geopolitik.
Akibatnya, pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga pada 2026. Kepala strategi logam MKS PAMP SA, Nicky Shiels, menilai sikap Powell menunjukkan pendekatan hati-hati dengan fokus menjaga stabilitas ekonomi.
Konflik Iran dan Israel Mendorong Potensi Permintaan Safe Haven
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuka peluang bagi kenaikan permintaan emas sebagai aset safe haven. Konflik antara Iran dan Israel dilaporkan meningkat dengan serangan terhadap fasilitas energi strategis.
Situasi memanas setelah Kepala Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, menyampaikan ancaman balasan keras atas tewasnya pejabat keamanan Ali Larijani dalam serangan udara Israel.
Kondisi tersebut menciptakan dinamika yang kompleks di pasar emas. Di satu sisi, kebijakan suku bunga dan tekanan inflasi menekan harga. Namun di sisi lain, meningkatnya risiko geopolitik justru dapat mendorong minat terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai.
Pelaku pasar kini terus mencermati arah kebijakan The Fed serta perkembangan konflik global yang akan menentukan pergerakan harga emas dalam waktu dekat.
