Harga Emas Menggila, Reli Rekor Tak Terbendung

Harga Emas Dunia Menembus Rekor Baru di Tengah Gejolak Global

Ilustrasi harga emas. (Foto: AP/ Mark Baker)

Lonjakan Permintaan Safe Haven Mendorong Harga Emas Cetak ATH

NEW YORK — Harga emas dunia kembali mencatatkan sejarah baru setelah menembus level US$ 4.800 per ons troi pada Rabu, 21 Januari 2026. Kenaikan ini menandai rekor tertinggi sepanjang masa yang tercipta selama tiga hari berturut-turut, seiring meningkatnya permintaan investor terhadap aset lindung nilai di tengah memanasnya tensi geopolitik global.

Harga emas spot naik 1,24% dan ditutup di level US$ 4.822,5 per ons troi. Pada sesi perdagangan yang sama, harga sempat menyentuh puncak tertinggi intraday di US$ 4.888,13 per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Februari turut menguat 1,23% ke posisi US$ 4.824,20 per ons troi. Pergerakan ini mempertegas reli emas yang kian agresif sejak awal pekan.

Ketegangan Politik Global Memperkuat Sentimen Pasar Emas

Reli harga emas berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap situasi geopolitik internasional. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait ambisinya untuk menguasai Greenland memicu kegelisahan investor, meskipun Trump menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan militer. Isu tersebut tetap menambah ketidakpastian global dan mendorong pelaku pasar memburu aset aman.

Analis pasar senior RJO Futures, Bob Haberkorn, menilai lonjakan harga emas dipicu kombinasi ketegangan geopolitik dan sentimen fear of missing out di kalangan investor. Ia menyebut kondisi global saat ini menciptakan momentum ideal bagi kenaikan harga emas dan perak, karena investor berlomba mengamankan posisi sebelum reli berlanjut lebih jauh.

Kebijakan The Fed Menjadi Penopang Tambahan Harga Emas

Di sisi lain, faktor kebijakan moneter turut memperkuat tren kenaikan emas. Mahkamah Agung Amerika Serikat tengah mengkaji gugatan terkait upaya Presiden Trump memberhentikan Gubernur The Fed Lisa Cook, yang dinilai sebagai ujian terhadap independensi bank sentral. Situasi ini menambah ketidakpastian arah kebijakan moneter AS.

Mayoritas ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya setidaknya sepanjang kuartal ini, bahkan hingga masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell berakhir pada Mei 2026. Ekspektasi suku bunga rendah menjadi katalis positif bagi emas, mengingat logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga sehingga lebih menarik saat suku bunga bertahan rendah.