Harga Emas Dunia Anjlok Lebih dari 10% dalam Sepekan, Sentimen Pasar Berbalik Negatif

Harga Emas Dunia Anjlok Lebih dari 10 Persen dalam Sepekan dan Sentimen Pasar Berbalik Negatif

Ilustrasi Harga Emas Hari Ini di Dunia. Foto: DAVID GRAY | AFP

Harga emas dunia mengalami tekanan signifikan sepanjang pekan lalu hingga turun lebih dari 10 persen. Pelemahan ini terjadi setelah kombinasi sentimen negatif dari kebijakan bank sentral dan meningkatnya ketegangan geopolitik, yang mendorong perubahan arah pasar secara cepat.

Di Jakarta, Senin 23 Maret 2026, harga emas global tercatat jatuh dari level psikologis USD 5.000 per ons dan akhirnya ditutup di bawah USD 4.500 per ons. Penurunan ini memperlihatkan perubahan sentimen investor dari optimistis menjadi lebih berhati-hati dalam waktu singkat.

Tekanan pasar mendorong harga emas jatuh dari level USD 5.000

Pada awal pekan, harga emas spot masih berada di kisaran USD 5.023,53 per ons dan cenderung stabil hingga pertengahan minggu. Namun, tekanan mulai muncul ketika harga menembus level support di sekitar USD 4.970, yang kemudian memicu aksi jual cepat.

Dalam waktu singkat, harga merosot hingga USD 4.860 hanya dalam dua jam. Pergerakan ini memperlihatkan kuatnya tekanan teknikal yang mempercepat penurunan harga di pasar global.

Data ekonomi dan pernyataan The Fed mempercepat penurunan harga emas

Situasi semakin memburuk setelah rilis data inflasi produsen yang melampaui ekspektasi pasar. Selain itu, pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell usai keputusan suku bunga turut memperkuat tekanan terhadap emas.

Akibatnya, harga kembali melemah mendekati USD 4.800 dan terus turun hingga sesi perdagangan Asia. Pada fase ini, emas menyentuh level USD 4.538 sebelum sempat mengalami rebound terbatas.

Harga emas menyentuh titik terendah mingguan dan menutup di bawah USD 4.500

Meskipun sempat pulih ke kisaran USD 4.730, tren penurunan tidak berhenti. Harga emas kembali tertekan hingga mencatat level terendah mingguan di USD 4.477,54 per ons.

Pada penutupan pekan, harga tetap berada di bawah USD 4.500. Kondisi ini menegaskan bahwa tekanan jual masih mendominasi pasar dalam jangka pendek.

Analis mempertahankan optimisme meski harga emas mengalami koreksi tajam

Sejumlah analis tetap melihat peluang pemulihan harga emas setelah koreksi yang dinilai berlebihan. Presiden Asset Strategies International, Rich Checkan, menilai bahwa faktor fundamental emas tidak mengalami perubahan signifikan.

Ia menyebut pasar hanya bereaksi terhadap hasil rapat FOMC dan pernyataan The Fed, sehingga peluang rebound masih terbuka. Pandangan serupa juga disampaikan analis senior Barchart.com, Darin Newsom, yang menilai tren jangka panjang emas belum berubah.

Menurutnya, inflasi yang berpotensi meningkat dan ketidakpastian geopolitik akan kembali menarik minat investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai.

Pelaku pasar tetap mewaspadai tekanan lanjutan dalam jangka pendek

Di sisi lain, sebagian analis memperkirakan tekanan harga masih berlanjut dalam waktu dekat. Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day, menilai perubahan sentimen pasar menjadi faktor utama yang menahan kenaikan harga.

Ia menyoroti sikap bank sentral yang cenderung menunda penurunan suku bunga serta kenaikan harga minyak sebagai faktor yang menekan emas. Meski demikian, ia menilai kondisi ini bersifat sementara dan tidak mengubah prospek jangka panjang.