Harga Emas Global Anjlok 11 Persen dalam Sepekan di Tengah Gejolak Perang Iran
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)
Konflik Iran mendorong tekanan besar pada harga emas dunia
Harga emas dunia mengalami penurunan tajam sepanjang pekan ketiga Maret 2026 meskipun konflik geopolitik meningkat. Perang yang melibatkan Iran justru memicu gangguan pasokan energi global dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi, tetapi harga emas tidak bergerak sebagai aset aman seperti biasanya.
Data terbaru menunjukkan harga emas turun hingga 11 persen dalam sepekan, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak 1983. Bahkan sejak konflik dimulai, harga logam mulia ini telah melemah lebih dari 14 persen. Pada Jumat, 20 Maret 2026, harga emas tercatat turun 0,7 persen ke level USD 4.574,90 per ounce.
Kenaikan suku bunga global mengurangi daya tarik emas
Kondisi pasar energi yang memanas mendorong bank sentral di berbagai negara menyesuaikan kebijakan moneternya. Kenaikan harga energi meningkatkan kekhawatiran inflasi, sehingga bank sentral cenderung mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga.
Kebijakan ini secara langsung menekan harga emas. Ketika suku bunga tinggi, instrumen investasi seperti obligasi menjadi lebih menarik karena menawarkan imbal hasil. Sebaliknya, emas yang tidak memberikan imbal hasil kehilangan daya tarik di mata investor.
Federal Reserve Amerika Serikat juga mengambil sikap hati-hati dengan mempertahankan suku bunga. Pelaku pasar bahkan memperkirakan tidak akan ada penurunan suku bunga dalam waktu dekat, sehingga tekanan terhadap emas terus berlanjut.
Penguatan dolar AS membuat emas semakin mahal bagi investor global
Selain kebijakan suku bunga, pergerakan dolar AS turut memberikan tekanan tambahan pada harga emas. Dalam beberapa pekan terakhir, dolar AS menguat hampir 2 persen sejak konflik Iran dimulai.
Penguatan ini membuat harga emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor di luar Amerika Serikat. Akibatnya, permintaan global terhadap emas cenderung melemah dan mempercepat penurunan harga.
Investor mulai melepas emas setelah reli panjang mereda
Koreksi harga emas juga dipicu oleh perubahan perilaku investor. Setelah mencatat kenaikan besar sepanjang 2025, banyak investor mulai mengambil keuntungan dan melepas kepemilikan emas mereka.
Selama tahun 2025, harga emas melonjak hingga 64 persen dan mencatat kinerja terbaik sejak 1979. Euforia tersebut bahkan sempat mendorong harga menyentuh USD 5.000 per troy ounce pada Januari 2026.
Namun, dalam beberapa pekan terakhir, momentum kenaikan tersebut mulai melemah. Investor ritel yang sebelumnya ikut mendorong reli kini mulai keluar dari pasar, sehingga tekanan jual meningkat.
Analis melihat momentum kenaikan emas mulai kehilangan tenaga
Sejumlah analis menilai tren kenaikan emas telah memasuki fase koreksi. Mereka melihat pergerakan emas dalam beberapa waktu terakhir lebih dipengaruhi oleh aksi ambil untung dan penyeimbangan portofolio.
Meski demikian, sebagian pelaku pasar masih optimistis terhadap prospek jangka panjang emas. Ketidakpastian geopolitik, inflasi global, dan kondisi utang pemerintah Amerika Serikat tetap menjadi faktor yang berpotensi mendukung harga emas di masa depan.
