Harga Emas Dunia Turun 1,5 Persen pada 24 Maret 2026 akibat Ketidakpastian Konflik Timur Tengah
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723186/original/087016300_1705921832-fotor-ai-2024012218923.jpg)
Harga emas dunia melemah pada perdagangan Selasa, 24 Maret 2026, seiring meningkatnya ketidakpastian pasar global. Investor merespons pernyataan yang saling bertentangan terkait konflik di Timur Tengah dengan mengurangi eksposur pada logam mulia.
Mengacu pada data perdagangan pukul 09.16 di Singapura, harga emas spot turun 1,5 persen menjadi USD 4.340,80 per ounce. Penurunan ini terjadi setelah pasar menghadapi tekanan beruntun dalam beberapa sesi terakhir.
Investor merespons penundaan serangan AS terhadap Iran dengan sikap hati-hati
Pasar global bergerak fluktuatif setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari. Keputusan tersebut muncul setelah ia menyebut adanya diskusi yang produktif antara kedua pihak.
Namun, pernyataan berbeda dari pihak Iran yang menolak kemungkinan negosiasi membuat ketidakpastian tetap tinggi. Selain itu, laporan mengenai potensi keterlibatan negara Teluk dalam konflik turut menambah kekhawatiran pelaku pasar.
Harga logam mulia lain ikut melemah mengikuti pergerakan emas
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga perak turun 3,3 persen menjadi USD 66,81 per ounce. Sementara itu, platinum dan paladium ikut mencatat pelemahan dalam perdagangan yang sama.
Emas batangan bahkan sempat turun 1,8 persen setelah sebelumnya mencatat kenaikan hampir 1 persen pada sesi yang bergejolak. Pergerakan ini menunjukkan kuatnya korelasi emas dengan dinamika pasar saham dan energi.
Kenaikan harga energi mendorong investor beralih ke aset lain
Lonjakan harga energi akibat konflik meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi ini mendorong investor untuk mengalihkan dana dari emas ke instrumen lain yang dinilai lebih menguntungkan dalam jangka pendek.
Emas tercatat mengalami penurunan hampir 2 persen pada sesi sebelumnya, sekaligus menandai penurunan harian kesembilan berturut-turut. Jika tren berlanjut, pasar berpotensi mencatat penurunan terpanjang dalam sejarah perdagangan emas.
Analis menilai pola penurunan emas mirip dengan krisis sebelumnya
Kepala Riset Komoditas Global Standard Chartered Plc, Suki Cooper, menilai tekanan harga emas saat ini masih berada dalam pola yang wajar. Ia menyebut emas sering mengalami pelemahan selama empat hingga enam minggu setelah periode ketidakpastian ekstrem.
Fenomena serupa juga terjadi setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, ketika harga emas sempat melonjak sebelum akhirnya terkoreksi dalam beberapa bulan. Kondisi tersebut dipicu oleh dampak lanjutan dari kenaikan harga energi dan tekanan inflasi.
Pelaku pasar menjual aset unggulan untuk menutup kerugian di sektor lain
Kepala Strategi Valuta Asing Global UBP SA, Peter Kinsella, menjelaskan bahwa investor cenderung menjual aset yang sebelumnya berkinerja baik untuk menutup kerugian di sektor lain. Strategi ini biasanya muncul dalam situasi krisis besar.
Ia menambahkan bahwa pola tersebut juga terlihat pada krisis keuangan global 2008. Dalam jangka pendek, pergerakan harga emas sangat dipengaruhi oleh posisi pasar, meskipun faktor fundamental jangka panjang tetap mendukung.
