Harga Emas Antam Berpeluang Menembus Rekor Baru dalam Sepekan

Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diproyeksikan bergerak kuat dan berpeluang mencetak level tertinggi baru dalam sepekan ke depan. Berdasarkan proyeksi terbaru, harga emas Antam diperkirakan bergerak di rentang Rp 2.752.000 hingga Rp 3.092.000 per gram, seiring masih kuatnya sentimen global yang menopang pergerakan logam mulia.
Pada perdagangan Sabtu, harga emas Antam ditutup di level Rp 2.887.000 per gram. Level ini menjadi pijakan penting bagi pergerakan harga dalam jangka pendek, di tengah tingginya volatilitas pasar komoditas global.
Analis Menetapkan Area Support dan Resistance Harga Emas Antam
Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, dari sisi teknikal, harga emas Antam masih memiliki ruang untuk bergerak fluktuatif. Ia menyebutkan support pertama berada di level Rp 2.852.000 per gram, sementara support kedua berada di kisaran Rp 2.752.000 per gram jika tekanan jual meningkat.
Di sisi lain, peluang kenaikan masih terbuka lebar. Ibrahim menilai resistance pertama emas Antam berada di level Rp 2.992.000 per gram pada awal pekan. Jika momentum penguatan berlanjut hingga akhir pekan, harga emas Antam berpotensi menyentuh resistance berikutnya di level Rp 3.092.000 per gram.
Faktor Geopolitik dan Politik AS Terus Mengerek Harga Emas
Ibrahim mengungkapkan, kenaikan harga emas dunia dan logam mulia saat ini didorong oleh kombinasi beberapa faktor utama. Ketegangan geopolitik global masih menjadi pemicu utama, meski polemik Greenland sempat mereda setelah muncul kesepakatan akses Amerika Serikat bersama NATO.
Namun demikian, hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara Uni Eropa masih memanas, terutama setelah Eropa enggan mengikuti inisiatif perdamaian yang diprakarsai Presiden AS Donald Trump. Kondisi tersebut menjaga permintaan aset lindung nilai tetap tinggi.
Selain itu, pergerakan armada laut Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah turut memperbesar risiko geopolitik, terutama terkait potensi eskalasi konflik Israel-Iran. Situasi ini kembali memperkuat daya tarik emas sebagai aset aman.
Perang Dagang dan Akumulasi Emas Bank Sentral Menguatkan Tren
Dari sisi perdagangan global, meski Amerika Serikat dan Eropa menyepakati penundaan tarif baru, risiko perang dagang belum sepenuhnya mereda. Tarif sebesar 15% yang dijadwalkan berlaku pada Februari masih menjadi perhatian pasar dan mendorong investor bertahan di aset safe haven.
Sementara itu, dari sisi pasokan dan permintaan, bank sentral dunia terus memperkuat cadangan emas. Bank Sentral China tercatat masih aktif menambah cadangan devisa dalam bentuk emas. Langkah serupa juga dilakukan oleh Bank Sentral Rusia, India, Eropa, dan Bank of England sebagai strategi lindung nilai menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Ketidakseimbangan Pasar Domestik Dorong Alternatif Emas Digital
Di dalam negeri, meski nilai tukar rupiah cenderung menguat, ketidakseimbangan supply dan demand emas fisik masih terjadi. Keterbatasan pasokan dan daya beli masyarakat mendorong minat terhadap alternatif investasi, termasuk emas digital, yang dinilai lebih fleksibel dan mudah diakses.
