Harga Emas Turun Imbas Dolar AS Menguat, Sentuh Level Segini

Harga Emas Melemah Meski Sempat Pulih akibat Tekanan Dolar AS pada 25 Maret 2026

Ilustrasi harga emas hari ini

Harga emas dunia bergerak melemah pada Rabu, 25 Maret 2026, meskipun sempat menunjukkan pemulihan setelah tekanan di sesi sebelumnya. Penguatan dolar Amerika Serikat dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah terus menekan daya tarik logam mulia di pasar global.

Mengacu pada laporan CNBC, harga emas tercatat turun tipis 0,1 persen ke level USD 4.400 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April juga melemah 0,3 persen menjadi USD 4.395,70 per ounce.

Di tengah pergerakan tersebut, indeks dolar AS justru menguat 0,5 persen. Kondisi ini membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor global, sehingga permintaannya ikut tertekan.

Pasar Menilai Ulang Ekspektasi Kebijakan The Fed dan Menekan Emas

Selanjutnya, pelaku pasar mulai mengevaluasi kembali arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Inflasi yang masih bertahan tinggi membuat peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve menjadi lebih kecil.

Akibatnya, imbal hasil obligasi pemerintah tetap berada di level tinggi. Imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun bahkan naik sekitar 5 basis poin ke 4,384 persen. Kondisi ini mendorong investor beralih dari emas yang tidak memberikan bunga ke instrumen berbasis imbal hasil.

Tekanan tersebut membuat harga emas berada dalam fase bearish meskipun sempat mengalami pemulihan jangka pendek.

Analis Menjelaskan Investor Melepas Emas untuk Likuiditas dan Ambil Untung

Di sisi lain, analis melihat penurunan harga emas sebagai kombinasi faktor makroekonomi dan penyesuaian posisi pasar. Ahli Strategi Investasi Senior Standard Chartered, Rajat Bhattacharya, menyebut investor cenderung menjual emas untuk meningkatkan likuiditas.

Ia menjelaskan bahwa fenomena ini sering terjadi saat pasar berada dalam tekanan tinggi. Investor biasanya membutuhkan dana tunai untuk memenuhi margin call atau sekadar mengamankan keuntungan dari aset yang sebelumnya naik signifikan.

Selain itu, penguatan dolar AS dalam beberapa waktu terakhir juga memperburuk tekanan terhadap permintaan emas global.

Analis Menilai Koreksi Terjadi Setelah Reli Panjang dan Tetap Positif Jangka Panjang

Meski demikian, sejumlah analis menilai koreksi harga emas saat ini merupakan hal yang wajar setelah reli panjang dalam setahun terakhir. Emas tercatat naik lebih dari 64 persen sepanjang tahun sebelumnya sebelum akhirnya terkoreksi tajam.

Analis pasar eToro, Zavier Wong, menilai lonjakan harga emas sebelumnya dipicu oleh faktor struktural seperti defisit fiskal, ketegangan geopolitik, serta diversifikasi cadangan oleh bank sentral.

Ia menambahkan bahwa setelah kenaikan besar tersebut, aksi ambil untung menjadi tidak terhindarkan. Namun demikian, prospek jangka panjang emas masih tetap didukung oleh risiko geopolitik dan permintaan dari bank sentral yang berkelanjutan.