Harga emas dunia kembali tertekan pada perdagangan Jumat, 31 Juli 2026, setelah dolar Amerika Serikat (AS) menguat. Meski begitu, emas berhasil mencatat kenaikan bulanan pertama setelah mengalami penurunan selama empat bulan berturut-turut.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas dunia ditutup di US$4.040,94 per troy ons pada Jumat. Harga tersebut turun 1,50% dalam sehari dan memangkas penguatan emas sepanjang Juli menjadi 0,84%.
Kendati mengalami tekanan pada perdagangan terakhir Juli, emas tetap mencatat performa bulanan positif. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak Februari 2026 setelah harga emas berturut-turut berakhir di zona merah selama empat bulan.
Dolar AS Menguat dan Menekan Harga Emas
Penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menekan harga emas pada akhir pekan lalu. Sehari sebelumnya, indeks dolar sempat anjlok sekitar 2,4% dan mencatat penurunan harian terbesar sejak Januari 2023.
Dolar kemudian bangkit dari level terendah dalam lebih dari satu bulan. Penguatan tersebut membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain sehingga berpotensi mengurangi permintaan terhadap logam mulia.
Meski demikian, emas masih mampu bertahan di atas level psikologis US$4.000 per troy ons. Data inflasi AS yang lebih rendah juga membantu membatasi tekanan terhadap harga emas.
Data yang dirilis Kamis menunjukkan indeks harga Personal Consumption Expenditures atau PCE AS turun 0,1% secara bulanan pada Juni. Perlambatan inflasi tersebut membuat pasar mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga lanjutan Federal Reserve atau The Fed.
Investor Masih Menunggu Arah Kebijakan The Fed
Kepala Analis Pasar Bybit Han Tan menilai emas masih kesulitan menjauh dari level US$4.000 meski berhasil mengakhiri tren penurunan empat bulan.
Menurut Tan, harga emas masih memperoleh dukungan dari harapan bahwa Ketua The Fed Kevin Warsh dapat memperluas fokus kebijakan bank sentral dan tidak hanya mengandalkan indikator inflasi tertentu.
Warsh kembali menegaskan komitmen The Fed untuk menurunkan inflasi pada pekan ini. Namun, ia belum memberikan sinyal yang tegas mengenai rencana kenaikan suku bunga berikutnya.
Berdasarkan perangkat FedWatch CME Group, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September sebesar 65%. Angka tersebut turun dari lebih dari 80% pada pekan sebelumnya.
Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga memberikan sentimen positif bagi emas. Suku bunga tinggi biasanya mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Bank Sentral Memborong Emas hingga 289 Ton
Di tengah tekanan dolar AS, permintaan bank sentral memberikan dukungan lain bagi pasar emas. World Gold Council (WGC) mencatat pembelian bersih emas bank sentral mencapai 289 ton pada kuartal II-2026.
Angka tersebut melonjak lima kali lipat dari kuartal I-2026 yang telah direvisi menjadi 57 ton. Pembelian pada kuartal II juga menjadi yang tertinggi untuk periode tersebut.
Jika dibandingkan dengan kuartal II-2025 yang mencapai 177,9 ton, pembelian bersih bank sentral meningkat sekitar 62%. WGC menilai ketegangan geopolitik, penurunan harga emas, dan kebutuhan diversifikasi cadangan mendorong peningkatan pembelian tersebut.
Polandia menjadi pembeli terbesar dengan tambahan 51 ton pada kuartal II. Cadangan emas negara tersebut mencapai 632 ton pada akhir Juni, sedangkan total pembelian selama semester pertama 2026 mencapai 82 ton.
China juga menambah 33 ton emas pada kuartal II. Pembelian tersebut menjadi yang terbesar secara kuartalan sejak akhir 2023. Sepanjang semester pertama, China membeli 40 ton sehingga total cadangan emasnya mencapai 2.346 ton.
Uzbekistan menambah 16 ton, Kazakhstan 15 ton, sementara Yordania dan Republik Ceko masing-masing membeli 6 ton. Sebaliknya, Rusia menjadi penjual terbesar dengan melepas 22 ton emas.
Meski pembelian meningkat tajam pada kuartal II, permintaan bersih bank sentral sepanjang semester pertama 2026 hanya mencapai 345 ton. Angka tersebut menjadi yang terendah untuk periode semester pertama sejak 2022 akibat tingginya penjualan Turki, Rusia, dan Azerbaijan pada kuartal I.
WGC memperkirakan permintaan bank sentral tetap berada di atas rata-rata jangka panjang. Survei WGC menunjukkan 89% pengelola cadangan devisa memperkirakan kepemilikan emas bank sentral global meningkat dalam 12 bulan mendatang. Sebanyak 45% responden juga berencana menambah cadangan emas institusinya.
