Harga Emas dan Perak Bangkit Setelah Koreksi, Analis Buka Peluang Tembus US$5.000

Jakarta – Harga emas dan perak kembali menguat pada awal Mei 2026 setelah sempat mengalami tekanan dalam beberapa sesi perdagangan sebelumnya. Pemulihan ini muncul seiring melemahnya indeks dolar Amerika Serikat serta turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang kembali mendorong minat investor terhadap aset safe haven.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis, 30 April 2026, ditutup di level US$4.621,59 per troy ons. Posisi tersebut naik 1,76% setelah emas sebelumnya tertekan selama tiga hari berturut-turut dengan pelemahan kumulatif 3,55%.
Momentum penguatan berlanjut pada perdagangan Jumat, 1 Mei 2026. Hingga pukul 06.46 WIB, harga emas kembali naik 0,24% ke posisi US$4.632,80 per troy ons, menandakan sentimen positif mulai kembali masuk ke pasar logam mulia.
Pelemahan Dolar AS Mengangkat Minat Investor ke Pasar Emas
Kenaikan harga emas dipicu oleh penurunan nilai tukar dolar AS yang terjadi setelah otoritas moneter Jepang memberi sinyal kuat akan melakukan intervensi pasar guna menjaga stabilitas yen.
Kondisi tersebut langsung mendorong daya tarik emas di pasar internasional. Saat dolar melemah, harga emas menjadi relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan pun meningkat.
Selain faktor mata uang, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga memperkuat daya tarik emas. Investor kembali mengalihkan sebagian portofolio mereka ke aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Harga Minyak dan Inflasi Global Menahan Laju Penguatan Emas
Meski emas menunjukkan pemulihan, pasar tetap menghadapi tekanan dari risiko inflasi global. Harga minyak dunia memang mulai melandai setelah sebelumnya sempat menyentuh level US$126 per barel, namun level energi yang masih tinggi tetap menimbulkan kekhawatiran di pasar komoditas.
Pada saat yang sama, data Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat menunjukkan kenaikan 0,7% pada bulan lalu. Angka tersebut menjadi laju pertumbuhan tercepat sejak pertengahan 2022 dan kembali memperkuat kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
Situasi ini membuat pasar memperkirakan bank sentral utama seperti Federal Reserve dan Bank of England akan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Proyeksi Harga Emas Membuka Peluang Menuju Level US$5.000
Walau suku bunga tinggi biasanya menekan permintaan emas, analis masih melihat prospek jangka panjang yang positif bagi logam mulia. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan tingginya volatilitas pasar dinilai masih mendukung peran emas sebagai aset aman.
Lembaga keuangan Citi memproyeksikan harga emas berpotensi bertahan di kisaran US$4.300 dalam jangka pendek. Bahkan, dalam enam hingga 12 bulan ke depan, harga emas dinilai berpeluang menyentuh level psikologis US$5.000 per troy ons.
Prospek tersebut muncul seiring potensi kembalinya arus dana investor ke instrumen safe haven ketika risiko global meningkat.
