Timur Tengah Memanas, Investor Berburu Emas

Konflik Timur Tengah Mendorong Investor Beralih ke Emas sebagai Aset Aman

Ilustrasi emas

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memengaruhi pergerakan pasar global. Serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan dan mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, terutama emas.

Situasi tersebut meningkatkan minat investor terhadap logam mulia karena emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven ketika ketidakpastian global meningkat. Perubahan sentimen pasar itu diperkirakan mulai terlihat ketika perdagangan global kembali dibuka pada awal pekan.

Analis Pasar Memperkirakan Permintaan Emas Meningkat di Awal Perdagangan

Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, memperkirakan minat terhadap emas akan meningkat ketika pasar mulai beroperasi kembali pada Senin, 2 Maret 2026. Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam laporan yang dikutip dari Reuters.

Menurut Waterer, ketidakpastian mengenai durasi konflik dan kemungkinan meluasnya perang ke negara lain membuat investor mencari perlindungan nilai. Selain itu, kekhawatiran terhadap potensi lonjakan inflasi juga turut mendorong investor memilih emas sebagai tempat menyimpan nilai aset mereka.

Ia menilai emas kemungkinan besar akan menjadi pilihan utama investor dibandingkan instrumen investasi berisiko tinggi selama ketegangan geopolitik masih berlangsung.

Analis Memperkirakan Pasar Saham Tertekan dan Harga Emas Berpotensi Melonjak

Waterer juga memperingatkan bahwa pasar saham dan berbagai aset berisiko berpotensi menghadapi tekanan jual pada awal pekan. Dalam kondisi seperti ini, investor biasanya memindahkan dana mereka ke instrumen yang lebih stabil.

Sementara itu, analis dari Marex, Edward Meir, memprediksi harga emas dapat melonjak signifikan sebagai reaksi awal pasar terhadap konflik yang memanas. Ia memperkirakan harga emas berpotensi naik hingga sekitar 200 dolar AS per troy ons pada awal pembukaan perdagangan.

Meski demikian, Meir menilai lonjakan tersebut kemungkinan tidak bertahan sepanjang hari. Ia memperkirakan harga emas bisa kembali terkoreksi setelah pasar mulai menyesuaikan diri dengan situasi geopolitik yang berkembang.

Pergerakan harga emas dalam situasi seperti ini menunjukkan bahwa pasar global sangat sensitif terhadap perkembangan konflik internasional. Selama ketegangan di Timur Tengah belum mereda, emas diperkirakan tetap menjadi aset yang paling dicari investor.