Harga Emas Bakal Terbang Tinggi ke Level Ini

Goldman Sachs Menaikkan Proyeksi Harga Emas hingga US$ 5.400 per Ons pada Akhir 2026

Ilustrasi emas batangan. (Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc/aa)

JAKARTA — Goldman Sachs kembali memperkuat pandangan bullish terhadap emas dengan menaikkan proyeksi harga lebih dari 10% pada akhir 2026. Bank investasi asal Amerika Serikat itu menilai kombinasi ketidakpastian global, permintaan investor, dan aksi bank sentral akan mendorong harga emas menembus level baru.

Mengutip Kitco News pada Jumat, 23 Januari 2026, Goldman Sachs memproyeksikan harga emas mencapai US$ 5.400 per troy ons pada akhir 2026. Proyeksi ini meningkat signifikan dari estimasi sebelumnya di kisaran US$ 4.900 per troy ons.

Goldman Sachs Memperkuat Optimisme Emas sebagai Aset Lindung Nilai

Analis Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven dan Lina Thomas menjelaskan bahwa revisi proyeksi tersebut mencerminkan meningkatnya minat investor swasta terhadap emas. Investor dinilai semakin agresif menggunakan emas sebagai instrumen lindung nilai di tengah risiko kebijakan makro dan dinamika geopolitik global.

Selain itu, Goldman Sachs menegaskan bahwa posisi emas sebagai aset safe haven tetap sulit tergantikan sepanjang 2026. Ketidakpastian arah ekonomi global dan volatilitas pasar yang berkelanjutan memperkuat peran emas dalam portofolio investasi global.

Bank Sentral Negara Berkembang Terus Mendorong Permintaan Emas

Goldman Sachs juga memproyeksikan bank sentral, khususnya dari negara berkembang, akan melanjutkan pembelian emas dalam skala besar. Total pembelian emas bank sentral global diperkirakan mencapai rata-rata 60 hingga 70 ton per bulan sepanjang 2026.

Para analis menilai permintaan bank sentral menjadi faktor utama yang menopang optimisme harga emas dibandingkan komoditas lainnya. Goldman Sachs bahkan memperkirakan pembelian emas bank sentral akan berkontribusi sekitar 14 poin persentase terhadap kenaikan harga emas hingga Desember 2026.

Faktor Geopolitik dan Energi Memperkuat Prospek Harga Emas

Selain permintaan fisik, Goldman Sachs menyoroti dua tren struktural yang berpotensi menopang reli harga emas. Dari sisi makro, persaingan geopolitik antara Amerika Serikat dan China diperkirakan terus menjadikan komoditas sebagai instrumen strategis, termasuk emas.

Sementara itu, dari sisi mikro, gelombang pasokan energi besar yang mulai terbentuk sejak 2025 dinilai ikut memengaruhi prospek sektor komoditas secara keseluruhan. Kombinasi faktor tersebut membuat Goldman Sachs menempatkan emas sebagai komoditas dengan prospek paling menjanjikan pada tahun mendatang.