Analis Memproyeksikan Harga Emas Berpeluang Menembus US$5.000 pada 2026

KUALA LUMPUR – Analis pasar global memproyeksikan harga emas berpeluang menembus level US$5.000 per ons pada 2026 seiring melemahnya peran aset Amerika Serikat sebagai tempat berlindung utama investor. Proyeksi tersebut disampaikan Amundi, manajer aset terbesar di Eropa, dalam paparan Market Outlook 2026 di Kuala Lumpur, Rabu (21/1/2026).
Senior Investment Strategist Asia Amundi Investment Institute, Aidan Yao, menilai ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi global mendorong investor mengubah strategi diversifikasi portofolio. Menurutnya, ketergantungan terhadap dolar AS dan aset berbasis Amerika mulai berkurang secara struktural.
Amundi Menilai Korelasi Aset Global Mengalami Pergeseran
Yao menjelaskan hubungan historis antara saham dan obligasi pemerintah AS tidak lagi berfungsi sebagai penyeimbang risiko. Dalam setahun terakhir, dolar AS melemah bersamaan dengan turunnya pasar saham, sementara obligasi gagal memberikan perlindungan saat volatilitas meningkat. Kondisi ini mematahkan pola lama di mana obligasi menguat ketika saham melemah.
Ia menyebut perubahan korelasi tersebut membuat emas kembali menempati posisi sentral sebagai aset diversifikasi. Saat ini, emas diperdagangkan di kisaran US$4.800 per ons, naik sekitar 12,5% sejak awal tahun. Dalam dua tahun terakhir, harga emas bahkan melonjak lebih dari dua kali lipat dari level US$2.000 per ons. Amundi optimistis target US$5.000 dapat tercapai dalam satu tahun ke depan.
Amundi Melihat Pasar Berkembang Menjadi Alternatif Investasi
Selain emas, Amundi memandang pasar negara berkembang sebagai tujuan investasi yang semakin menarik. Yao menyatakan kinerja pasar berkembang pada 2025 berhasil melampaui Amerika Serikat untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Ia menilai capaian tersebut menandai titik balik penting yang berpotensi bertahan hingga enam tahun mendatang.
Valuasi yang lebih wajar, prospek laba perusahaan yang solid, serta siklus pelonggaran kebijakan moneter AS memperkuat daya tarik pasar berkembang. Amundi menilai investor global mulai mengalihkan alokasi dana ke wilayah ini untuk mencari pertumbuhan yang lebih seimbang.
Amundi Menilai China Kembali Menarik Perhatian Investor Global
China turut berperan dalam kebangkitan minat terhadap pasar berkembang. Amundi mencatat sentimen investor terhadap China mulai membaik seiring memudarnya diskon geopolitik yang selama ini membebani aset negara tersebut. Meski tensi perdagangan masih berlangsung, ekonomi China menunjukkan ketahanan yang lebih baik dari perkiraan.
Dalam konteks dedolarisasi global, bank sentral di berbagai negara, terutama di China, India, dan Timur Tengah, terus meningkatkan cadangan emas. Langkah ini memperkuat posisi emas sebagai jangkar stabilitas di tengah pergeseran kekuatan ekonomi global dari Barat ke Timur.
