UBS Proyeksikan Harga Emas Tembus US$ 5.900 per Troy Ons di Akhir 2026

JAKARTA, investor.id – Harga emas dunia terus bergerak fluktuatif dalam beberapa hari terakhir seiring perubahan sentimen pasar global. Pada perdagangan Selasa (10/2/2026), harga emas spot turun 0,42% ke posisi US$ 5.038,76 per troy ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April melemah 0,39% dan ditutup di level US$ 5.059,41 per troy ons.
Meski terkoreksi, sejumlah analis tetap melihat ruang kenaikan harga emas dalam jangka menengah hingga panjang. Pergerakan yang dinamis justru mencerminkan tingginya respons pasar terhadap perubahan kebijakan dan faktor geopolitik global.
UBS Memperkirakan Reli Emas Berlanjut hingga Akhir Tahun
Analis bank asal Swiss, UBS, memperkirakan harga emas berpotensi mencapai kisaran US$ 5.900 per troy ons pada akhir 2026. Mereka menilai komoditas, termasuk emas dan logam industri, akan memainkan peran lebih besar dalam portofolio investasi tahun ini.
Dalam laporan yang dikutip dari Kitco News pada Rabu (11/2/2026), analis UBS menyebut ketidakseimbangan pasokan dan permintaan, risiko geopolitik, serta tren jangka panjang menjadi pendorong utama potensi kenaikan tersebut. Mereka juga menegaskan bahwa volatilitas harga emas meningkat signifikan, bahkan mencatat penurunan harian terbesar sejak 2013.
Perubahan sentimen pasar juga dipicu oleh penunjukan Kevin Warsh untuk memimpin Federal Reserve. Keputusan tersebut meredakan kekhawatiran bahwa figur yang lebih dovish akan mempercepat pelemahan dolar Amerika Serikat. Sebelumnya, emas sempat menguat karena kekhawatiran terhadap nilai mata uang AS.
Kebijakan Suku Bunga dan Permintaan Bank Sentral Dukung Harga Emas
UBS menilai arah kebijakan The Fed ke depan tidak akan menghentikan reli emas seperti yang pernah terjadi dalam beberapa periode historis. Bahkan, potensi penurunan suku bunga lanjutan di Amerika Serikat diperkirakan akan mendorong permintaan investor terhadap exchange traded fund (ETF) berbasis emas.
Penurunan suku bunga menekan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas, sehingga daya tarik logam mulia ini tetap kuat. Selain itu, UBS menekankan bahwa pembelian emas oleh bank sentral global masih menjadi fondasi penting yang menjaga tren kenaikan harga dalam jangka panjang.
Dengan kombinasi faktor fundamental dan sentimen global tersebut, emas diperkirakan tetap menjadi instrumen lindung nilai yang diminati sepanjang 2026.
