Pakar UMY Menilai Kenaikan Harga Emas Selaras Nubuat Kembalinya Dinar dan Dirham

Dosen UMY Membaca Kenaikan Harga Emas Lewat Perspektif Ekonomi dan Agama
Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr. Ayif Fathurrahman, S.E., S.E.I., M.Si., menafsirkan kenaikan harga emas sebagai fenomena ekonomi global yang selaras dengan nubuat Rasulullah SAW tentang kembalinya dinar dan dirham. Ayif menyampaikan pandangan tersebut di Yogyakarta pada Jumat, 30 Januari 2026, dengan menggabungkan pendekatan ekonomi modern dan perspektif agama.
Ayif menjelaskan dominasi dolar Amerika Serikat sebagai mata uang global selama puluhan tahun telah menciptakan ketergantungan yang rapuh. Ketika kepercayaan terhadap sistem moneter berbasis uang kertas mulai melemah, masyarakat dunia secara alamiah kembali mencari aset yang memiliki nilai intrinsik. Dalam konteks ini, emas kembali menjadi pilihan utama.
Tren Dedolarisasi Global Memperkuat Posisi Emas
Ayif menyoroti tren dedolarisasi yang semakin nyata di tingkat global. Negara-negara besar seperti China, Rusia, dan India terus meningkatkan cadangan emas mereka sebagai bagian dari strategi ekonomi jangka panjang. Langkah tersebut, menurut Ayif, menunjukkan berkurangnya kepercayaan terhadap dolar AS sebagai jangkar utama sistem keuangan dunia.
Ayif menilai kebijakan Amerika Serikat yang dapat mencetak dolar tanpa batas berbanding terbalik dengan beban utang negara tersebut yang terus membesar. Ketika banyak negara memilih mengamankan kekayaan dalam bentuk emas, kondisi itu menjadi sinyal kuat bahwa sistem moneter lama mulai ditinggalkan.
Ayif Menyebut Nubuat Dinar dan Dirham Sebagai Realitas Ekonomi
Dalam pandangannya, Ayif menyebut nubuat Rasulullah SAW tentang kembalinya dinar dan dirham tidak sekadar romantisme sejarah. Ia menilai fenomena kenaikan harga emas merupakan bagian dari proses panjang menuju perubahan sistem ekonomi global. Ketika kepercayaan terhadap mata uang fiat melemah, emas tampil sebagai aset yang stabil dan tidak tertandingi.
Meski demikian, Ayif menegaskan masyarakat dan negara perlu menyikapi perubahan ini secara rasional dan ilmiah. Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas ekonomi domestik agar tidak terjebak kepanikan berlebihan.
Ayif menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa stabilitas ekonomi tetap dapat terjaga selama kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, pasar berjalan normal, dan pemerintah mampu menjaga kepercayaan publik di tengah dinamika ekonomi global.
