Mendagri Sebut Lonjakan Harga Emas Kerek Inflasi, Ini Biang Keroknya

Mendagri Menilai Lonjakan Harga Emas Mendorong Inflasi Desember 2025

Mendagri Sebut Lonjakan Harga Emas Kerek Inflasi, Ini Biang Keroknya

Jakarta mencatat lonjakan inflasi pada Desember 2025 seiring kenaikan tajam harga emas di pasar domestik. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan bahwa pergerakan harga emas menjadi faktor dominan yang mengerek inflasi nasional hingga mendekati 3 persen. Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang disiarkan melalui YouTube Kemendagri pada Selasa, 27 Januari 2026.

Tito menjelaskan bahwa inflasi tahunan Desember 2025 mencapai 2,92 persen, dengan kontribusi terbesar berasal dari komoditas emas, khususnya emas perhiasan. Pada periode yang sama, harga emas Antam 24 karat tercatat melonjak dan mendekati Rp 3 juta per gram, dengan harga pagi hari mencapai Rp 2.916.000 per gram. Kenaikan ini, menurutnya, langsung tercermin dalam perhitungan inflasi.

Tito Karnavian Mengaitkan Kenaikan Emas dengan Geopolitik Global

Tito menegaskan bahwa lonjakan harga emas tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan ketegangan geopolitik dunia yang terus meningkat. Ia menyebutkan bahwa banyak negara mulai mengalihkan cadangan devisanya ke emas karena meningkatnya risiko pada aset berbasis valuta asing. Kondisi ini mendorong permintaan emas global dan secara langsung menekan harga ke level yang lebih tinggi.

Ia mencontohkan langkah Rusia setelah konflik dengan Ukraina. Ketika negara-negara Barat membekukan cadangan devisa Rusia dalam bentuk dolar Amerika Serikat, Rusia segera mencari instrumen cadangan yang dinilai lebih aman. Emas kemudian menjadi pilihan utama karena tidak bergantung pada sistem keuangan negara lain.

Negara-Negara Besar Mengikuti Langkah Rusia Menimbun Emas

Setelah Rusia melakukan pembelian emas secara besar-besaran, tren serupa diikuti oleh negara-negara lain seperti China dan India. Tito menyampaikan bahwa negara-negara tersebut memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan Amerika Serikat sehingga mereka mengantisipasi potensi risiko terhadap cadangan dolar AS. Akibatnya, mereka mulai menambah cadangan emas, bahkan hingga membeli tambang emas secara langsung.

Menurut Tito, pembelian masif oleh negara-negara besar ini menciptakan lonjakan permintaan emas di pasar global. Karena emas merupakan komoditas dunia, kenaikan harga tersebut menyebar ke seluruh negara, termasuk Indonesia. Situasi ini memicu fenomena mirip “gold rush” yang akhirnya mendorong inflasi domestik.

Kenaikan Harga Emas Memberi Tekanan Nyata pada Inflasi Dalam Negeri

Tito menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa masyarakat mungkin tidak langsung menyadari lonjakan pembelian emas secara global. Namun, dampaknya terasa nyata melalui kenaikan harga emas di dalam negeri yang kemudian tercermin dalam inflasi. Pemerintah, menurutnya, akan terus memantau pergerakan harga komoditas global agar tekanan inflasi tetap terkendali.