Kilau Emas Jelang Imlek: Saat Budaya China Menantang Rekor Logam Mulia

Budaya Imlek Mengangkat Kilau Emas di Tengah Rekor Harga Global

Ilustrasi emas China. (AFP)

Menjelang perayaan Tahun Baru China atau Imlek, emas kembali menempati ruang penting dalam dinamika pasar global. Di Asia Timur, logam mulia ini tidak hanya berfungsi sebagai instrumen investasi, tetapi juga simbol perlindungan, keberuntungan, dan kesinambungan nilai yang tertanam kuat dalam budaya. Kombinasi antara tradisi dan momentum musiman membuat Imlek selalu menjadi periode krusial bagi pergerakan pasar emas.

Pada 2026, libur panjang Spring Festival di China berlangsung pada 15–23 Februari. Menjelang periode ini, aktivitas industri dan bisnis biasanya melambat karena jutaan pekerja memulai tradisi Chunyun atau mudik massal. Meski aktivitas ekonomi cenderung melemah, permintaan emas justru mempertahankan daya tahannya karena faktor budaya yang tidak sepenuhnya sensitif terhadap harga.

Harga Emas Global Memecahkan Rekor Saat Permintaan Budaya Tetap Kuat

Harga emas dunia mencetak rekor tertinggi sepanjang masa setelah menembus level psikologis US$4.900 per troy ons. Kenaikan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik, pelemahan dolar AS, serta ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve. Indeks dolar AS tercatat melemah, sehingga meningkatkan daya tarik emas di mata investor global.

Menariknya, lonjakan harga tersebut tidak memadamkan permintaan fisik di China. Di tengah harga yang mahal, emas fisik di Negeri Tirai Bambu masih diperdagangkan dengan premium tipis terhadap harga spot internasional. Kondisi ini mencerminkan permintaan yang tetap solid menjelang Imlek, terutama untuk perhiasan, batangan kecil, dan koin emas yang lazim dijadikan hadiah dan tabungan keluarga.

Perbedaan Sikap Konsumen Asia Menyoroti Kekuatan Pasar China

Kondisi China berbanding terbalik dengan India. Di India, lonjakan harga emas domestik justru menekan belanja ritel, membuat pembelian perhiasan nyaris terhenti dan dealer menawarkan diskon. Sebaliknya, China menunjukkan ketahanan permintaan, menandakan peran budaya Imlek yang mampu menahan dampak kenaikan harga.

Analis independen Ross Norman menilai situasi ini tidak lazim. Secara historis, lonjakan harga biasanya langsung menekan pembelian fisik di Asia. Bertahannya premium di China mengindikasikan kebutuhan riil yang kuat dan tidak sepenuhnya elastis terhadap harga.

Lonjakan Impor Menggambarkan Strategi Jangka Panjang China

Data menunjukkan impor emas China melalui Hong Kong melonjak signifikan pada November 2025. Lonjakan ini terjadi saat harga emas dunia sudah berada di level tinggi, menandakan keputusan pembelian yang terencana. Hong Kong tetap berperan sebagai hub utama yang menopang arus emas ke China.

Selain dorongan konsumsi jelang Imlek, peningkatan impor juga mencerminkan strategi institusional. Cadangan emas resmi China terus bertambah selama lebih dari setahun terakhir, menegaskan upaya diversifikasi cadangan dan pengelolaan risiko moneter. Pertemuan antara permintaan budaya dan strategi jangka panjang inilah yang membuat pasar emas China tetap bergairah di tengah rekor harga global.