Harga Emas Dunia Melemah Saat Investor Menanti Rilis Data Penting AS

NEW YORK – Harga emas dunia terkoreksi pada perdagangan Selasa, 10 Februari 2026, ketika pelaku pasar memilih mengamankan keuntungan dan menunggu rilis data ekonomi utama Amerika Serikat. Investor menahan posisi menjelang publikasi data ketenagakerjaan dan inflasi yang dinilai menentukan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Harga emas spot turun 0,42% ke level US$ 5.038,76 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April melemah 0,39% dan ditutup di US$ 5.059,41 per ons troi. Koreksi tersebut terjadi setelah reli yang cukup kuat dalam beberapa sesi sebelumnya.
Pelaku Pasar Konsolidasi Jelang Data Tenaga Kerja dan Inflasi
Direktur perdagangan logam High Ridge Futures, David Meger, menilai penurunan harga lebih mencerminkan aksi ambil untung jangka pendek. Ia menyebut pasar memasuki fase konsolidasi menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting pada pekan ini, seperti dilaporkan CNBC.
Pasar kini menantikan data nonfarm payroll AS periode Januari yang dijadwalkan rilis Rabu, 11 Februari 2026. Survei Reuters memperkirakan ekonomi AS menambah sekitar 70.000 lapangan kerja. Selain itu, pemerintah AS akan merilis data Indeks Harga Konsumen pada Jumat, yang akan memberi gambaran terbaru mengenai tekanan inflasi.
Di sisi lain, data penjualan ritel AS pada Desember tercatat stagnan dan meleset dari ekspektasi. Kondisi tersebut mengindikasikan perlambatan belanja konsumen serta sinyal pelemahan pertumbuhan ekonomi pada awal tahun.
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Topang Prospek Emas
Perlambatan ekonomi memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga tahun ini. Pelaku pasar memperkirakan bank sentral tersebut menurunkan suku bunga dua kali, masing-masing sebesar 25 basis poin. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah biasanya mendukung harga emas karena menekan biaya peluang kepemilikan aset tanpa imbal hasil.
Meger menambahkan bahwa pelemahan dolar AS juga berpotensi menopang harga emas dalam jangka menengah. Selain itu, ketegangan geopolitik global dan ekspektasi pelonggaran moneter tetap menjaga daya tarik logam mulia, terutama setelah harga bertahan di atas level psikologis US$ 5.000 per ons troi.
