Ketegangan Geopolitik Dorong Harga Emas Berpotensi Tembus Rp2,6 Juta

Eskalasi Konflik Global Mendorong Proyeksi Kenaikan Harga Emas
JAKARTA — Harga emas dunia berpeluang melampaui rekor tertinggi pada pekan depan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Amerika Latin. Kondisi global tersebut mendorong investor kembali memburu emas sebagai aset lindung nilai. Sejalan dengan tren ini, harga emas batangan di pasar domestik diperkirakan menembus level psikologis Rp2,6 juta per gram menjelang Natal 2025.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas spot tercatat berada di level US$4.338,38 per troy ounce pada Sabtu, 19 Desember 2025, atau naik 0,14 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Pada saat yang sama, kontrak emas berjangka Comex Amerika Serikat menguat 0,52 persen ke level US$4.387,30 per troy ounce. Pergerakan ini menandai konsistensi tren penguatan emas dalam beberapa pekan terakhir.
Analis Memperkirakan Emas Dunia Menembus Level Resistensi
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai harga emas global menunjukkan tren bullish yang solid. Ia memproyeksikan emas dunia berpotensi menembus level resistensi awal di US$4.378 per troy ounce dan bergerak menuju US$4.415 per troy ounce apabila sentimen positif berlanjut. Bahkan, ia memperkirakan harga emas dapat melampaui rekor Oktober 2025 di US$4.381 per troy ounce pada pekan depan.
Menurut Ibrahim, pasar merespons meningkatnya risiko geopolitik sebagai katalis utama penguatan emas. Rencana serangan militer baru Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran global, terutama terkait pengembangan program rudal balistik Iran. Situasi ini mendorong pelaku pasar mengalihkan aset ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Konflik Amerika Latin dan Faktor Domestik Perkuat Prospek
Selain Timur Tengah, ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela turut memperkuat sentimen positif bagi emas. Langkah Presiden AS Donald Trump yang kembali menahan kapal tanker minyak Venezuela dinilai memperbesar risiko gangguan pasokan energi global dan meningkatkan ketidakpastian pasar. Situasi tersebut mempertegas peran emas sebagai aset safe haven di tengah gejolak geopolitik.
Di dalam negeri, pergerakan harga emas juga dipengaruhi fluktuasi nilai tukar rupiah. Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp16.680 hingga Rp16.820 per dolar AS pada pekan depan. Selain itu, pasar masih mencermati sikap Federal Reserve terkait peluang penurunan suku bunga pada Januari 2026. Ibrahim menilai, jika fundamental global dan domestik tetap mendukung, harga emas berpotensi mencapai Rp2,7 juta per gram pada akhir tahun.
