Harga Emas Tembus US$ 5.000, Tren Baru Mengarah ke Level Ini

Harga Emas Dunia Menembus US$ 5.000 dan Membuka Tren Kenaikan Baru

Emas batangan. (Foto: ANTARA/REUTERS/Denis Balibouse/pri)

Harga emas dunia mencetak sejarah baru setelah menembus level All Time High (ATH) di US$ 5.000 per troy ons pada Senin, 26 Januari 2026. Lonjakan ini menegaskan posisi emas sebagai aset lindung nilai utama di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pasar langsung merespons positif seiring kuatnya sentimen geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.

Harga emas spot dibuka menguat 0,94% ke posisi US$ 5.029,62 per troy ons pada pukul 23.21 waktu Amerika Serikat. Pada saat yang sama, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari naik 1,02% menjadi US$ 5.029,70 per troy ons. Pergerakan ini menunjukkan minat beli investor tetap solid meski harga sudah berada di level tertinggi sepanjang sejarah.

Analis Memproyeksikan Harga Emas Terus Menguat hingga US$ 6.000

Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan reli harga emas berpotensi berlanjut di atas level US$ 5.000 per troy ons. Ia menilai peluang kenaikan masih terbuka lebar pada kuartal pertama 2026. Menurutnya, harga emas berpeluang menyentuh kisaran US$ 5.500 per troy ons pada Februari atau Maret, bergantung pada laju penguatan pasar global.

Ibrahim juga memproyeksikan tren kenaikan tidak berhenti di level tersebut. Ia menyebut harga emas berpotensi mencetak rekor baru di US$ 6.000 per troy ons pada kuartal kedua atau ketiga 2026. Proyeksi ini mencerminkan kombinasi sentimen global yang masih mendukung penguatan logam mulia.

Ketegangan Geopolitik dan Perang Dagang Mendorong Permintaan Emas

Lonjakan harga emas tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik global. Salah satu faktor utama berasal dari hubungan Amerika Serikat dan Uni Eropa yang sempat memanas terkait isu Greenland. Meski ketegangan tersebut mulai mereda, sikap politik Presiden AS Donald Trump tetap memicu kewaspadaan para pemimpin Eropa dan pelaku pasar.

Selain itu, eskalasi perang dagang kembali memanaskan pasar. Amerika Serikat dilaporkan menekan Kanada dengan tarif impor sebesar 100% setelah negara tersebut menjalin kesepakatan dagang dengan China. Situasi ini mendorong investor mengalihkan dana ke aset aman seperti emas.

Pasar Menanti Arah Kebijakan Suku Bunga The Fed

Dari sisi moneter, pelaku pasar terus mencermati kebijakan Federal Reserve. Ibrahim menilai suku bunga acuan AS kemungkinan bertahan pada Januari. Namun, pasar kini fokus menunggu kepastian waktu pemangkasan suku bunga, apakah akan terjadi pada Februari atau Maret 2026. Ekspektasi penurunan suku bunga ini semakin memperkuat daya tarik emas dan menjaga momentum kenaikan harga.