Harga Emas Pecah Rekor Tembus US$ 4.700 Terkerek Ancaman Tarif Trump

Harga Emas Dunia Tembus Rekor US$ 4.700 Dipicu Ancaman Tarif Donald Trump

Kelantan resmi izinkan warga miskin mendulang emas secara legal. Langkah ini diambil untuk bantu ekonomi rakyat di tengah harga emas tinggi.

Harga emas dunia melonjak tajam dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa dengan menembus level US$ 4.700 per ons pada Selasa, 20 Januari 2026. Di Jakarta, lonjakan ini mencerminkan meningkatnya kepanikan pasar global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman tarif tambahan terhadap sekutu Eropa, yang merusak sentimen risiko dan mendorong investor memburu aset aman.

Investor Memborong Safe Haven Saat Ketegangan Geopolitik Meningkat

Kenaikan harga emas terjadi ketika investor global beramai-ramai mengalihkan dana ke aset perlindungan nilai di tengah eskalasi ketegangan geopolitik. Ancaman tarif baru dari Washington memicu kekhawatiran akan kembalinya perang dagang berskala besar, sehingga mendorong aksi beli emas secara agresif. Situasi ini membuat emas kembali menegaskan perannya sebagai instrumen lindung nilai utama saat ketidakpastian meningkat.

Harga Emas Spot dan Berjangka Melonjak Serentak

Harga emas spot tercatat menguat 1% ke level US$ 4.717,03 per ons pada pukul 07.30 GMT setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 4.721,91 per ons. Pada saat yang sama, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Februari melonjak lebih kuat dengan kenaikan 2,8% ke posisi US$ 4.722,70 per ons. Kenaikan serempak ini menandakan sentimen bullish yang solid di pasar logam mulia.

Perak Mendekati Rekor Seiring Lonjakan Logam Mulia

Selain emas, harga perak juga bergerak mendekati rekor tertingginya dan diperdagangkan di kisaran US$ 94,23 per ons. Penguatan perak menguatkan sinyal bahwa investor secara luas memilih logam mulia sebagai perlindungan nilai, bukan hanya emas, di tengah tekanan geopolitik dan ekonomi global.

Analis Menilai Kebijakan Trump Menguntungkan Logam Mulia

Kepala analis pasar KCM Trade Tim Waterer menilai pendekatan kebijakan Donald Trump yang agresif dalam urusan internasional serta dorongannya terhadap penurunan suku bunga sangat menguntungkan emas dan perak. Sejak Trump memulai masa jabatan keduanya setahun lalu, harga emas telah melonjak lebih dari 70%, sementara harga perak meroket lebih dari 200%, mencerminkan perubahan besar dalam preferensi aset investor.

Pelemahan Dolar AS Mempercepat Reli Emas

Pelemahan dolar AS ke level terendah dalam sepekan turut memperkuat kenaikan harga emas. Ancaman tarif memicu aksi jual di pasar saham dan obligasi pemerintah AS, sehingga investor beralih ke aset tanpa risiko gagal bayar seperti emas dan franc Swiss. Di tengah kekhawatiran akan volatilitas lanjutan, emas diperkirakan tetap menjadi pilihan utama pasar hingga jalur negosiasi global menjadi lebih jelas.