Harga Emas dan Perak Naik Signifikan Setelah Trump Umumkan Gencatan Senjata

Pasar Merespons Positif Gencatan Senjata AS-Iran
Jakarta – Harga emas kembali menguat pada Rabu (8/4/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan jeda serangan terhadap Iran selama dua minggu. Keputusan ini menenangkan pasar dan mengurangi kekhawatiran terkait lonjakan inflasi akibat harga energi. Pengumuman tersebut mendorong harga emas spot naik 2,3% menjadi US$ 4.811,66 per troy ons pada pukul 23.44 GMT, setelah sebelumnya naik 1,2% pada Selasa. Emas berjangka untuk pengiriman Juni di AS juga menguat 3,3% ke US$ 4.840,20 per troy ons.
Harga Perak dan Logam Lain Menguat Seiring Emas
Selain emas, harga perak naik 4,3% menjadi US$ 76,08 per ons, platinum meningkat 2,4% ke US$ 2.004,95, dan palladium naik 2,1% ke US$ 1.500 per ons. Kenaikan ini terjadi karena investor mencari aset lindung nilai saat ketegangan geopolitik sedikit mereda. Langkah diplomasi yang diumumkan Trump memberikan sinyal positif bagi perdagangan logam mulia global.
Trump Setujui Jeda Serangan dan Tinjau Proposal Negosiasi Iran
Trump menyatakan AS menyetujui jeda serangan selama dua minggu dan menilai proposal 10 poin dari Iran layak dijadikan dasar negosiasi. Sebelumnya, Trump memperingatkan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi respons tegas. Pasar bereaksi cepat terhadap kabar ini, meski tetap ada ketidakpastian apakah Iran akan mematuhi kesepakatan sepenuhnya.
Investor Mengawasi Level Kritis Emas dan Perak
Para analis memperingatkan investor untuk memantau level penting harga emas di US$ 4.930 hingga US$ 5.000, sementara perak berada di kisaran krusial US$ 80-81. Pakistan yang memediasi diplomasi meminta perpanjangan waktu dua minggu agar jalur negosiasi berjalan efektif. Dewan Keamanan Tertinggi Iran menegaskan pembicaraan dimulai Jumat, 10 April di Islamabad, namun tidak menandakan perang berakhir.
Emas Tetap Menjadi Lindung Nilai Saat Ketidakpastian
Kenaikan harga energi sebelumnya berpotensi mendorong inflasi dan mempersulit kebijakan bank sentral terkait suku bunga. Emas tetap diminati sebagai aset aman, meski daya tariknya menurun saat suku bunga tinggi. Riset Federal Reserve Bank of Dallas menunjukkan gangguan perdagangan minyak global bisa mendorong inflasi AS melewati 4% hingga akhir tahun. Harga emas yang sempat turun lebih dari 8% sejak konflik Iran dimulai kini kembali menguat, menandakan investor menilai gencatan senjata sebagai peluang untuk menstabilkan portofolio.
