Logam Mulia Diburu: Harga Emas Kinclong, Perak Pecah Rekor

Emas dan Perak Melonjak ke Rekor Baru Akibat Ketegangan Geopolitik

Batangan emas seberat satu kilogram di pabrik pemurnian ABC Refinery, yang dioperasikan oleh Pallion, di Sydney, Australia, pada Kamis (17/4/2025). Bloomberg/Brendon Thorne

Harga Emas Tembus US$4.363 per Ons dan Perak Capai Rekor

JAKARTA — Harga emas menguat ke level US$4.363,21 per ons, sementara perak melonjak ke US$67,46 per ons pada Senin, 22 Desember 2025. Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global dan ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve pada 2026. Data Bloomberg mencatat harga emas spot naik 0,5 persen, mendekati rekor tertinggi US$4.381 yang tercapai Oktober lalu, sedangkan perak naik 0,5 persen dari posisi sebelumnya.

Investor Bereaksi terhadap Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Kenaikan emas berlanjut setelah mencatatkan reli dua pekan berturut-turut. Pasar bertaruh The Fed akan menurunkan suku bunga dua kali tahun depan menyusul data ekonomi AS yang ambigu. Presiden AS Donald Trump mendorong kebijakan penurunan suku bunga agresif. Sentimen ini mendorong investor dan bank sentral untuk memburu logam mulia sebagai aset lindung nilai dari risiko inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

Perak Mengalami Lonjakan Berkat Arus Dana Spekulatif

Perak mencatat rekor harga karena arus dana spekulatif dan pasokan yang ketat setelah short squeeze bersejarah Oktober lalu. Volume perdagangan kontrak berjangka perak di Shanghai melonjak, mendekati level krisis pasokan sebelumnya. Ketatnya pasokan, didorong permintaan tinggi di pusat perdagangan utama, membuat perak menjadi komoditas yang semakin menarik bagi investor jangka pendek maupun jangka panjang.

Logam Mulia Tutup Tahun dengan Kinerja Historis

Emas dan perak mencatatkan kenaikan tahunan terkuat sejak 1979. Sepanjang 2025, harga perak meningkat lebih dari dua kali lipat, sedangkan emas naik sekitar dua pertiga dari awal tahun. Bank sentral melakukan pembelian agresif, sementara produk exchange-traded fund (ETF) berbasis emas mencatat arus masuk lima pekan berturut-turut. Analis Goldman Sachs memprediksi harga emas dapat mencapai US$4.900 per ons tahun depan, dengan risiko kenaikan lebih tinggi karena persaingan investor ETF dan bank sentral memperebutkan pasokan emas batangan yang terbatas.