Harga Emas dan Perak Menguat Setelah Data Ekonomi AS Melemah

JAKARTA – Harga emas dan perak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu pagi, 11 Februari 2026, setelah sehari sebelumnya terkoreksi. Penguatan ini terjadi seiring turunnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang merespons data penjualan ritel lebih lemah dari perkiraan. Pelaku pasar pun meningkatkan kewaspadaan menjelang rilis data tenaga kerja utama Amerika Serikat.
Pada perdagangan pagi, harga emas spot naik 0,39% ke level US$ 5.044,88 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April menguat 0,75% menjadi US$ 5.068,59 per ons troi. Kenaikan ini menandai kembalinya minat beli setelah tekanan jual sebelumnya mereda.
Penurunan Yield Obligasi AS Mendorong Kenaikan Logam Mulia
Harga perak ikut melesat signifikan dengan kenaikan 1,67% ke level US$ 82,21 per ons, setelah sempat merosot lebih dari 3% pada sesi sebelumnya. Lonjakan harga logam mulia ini mengikuti penurunan yield obligasi Amerika Serikat pada Selasa.
Penurunan imbal hasil terjadi setelah serangkaian data ekonomi menunjukkan perlambatan aktivitas di Amerika Serikat. Data terbaru mencatat penjualan ritel Desember stagnan secara tak terduga, karena rumah tangga menahan belanja kendaraan bermotor dan barang bernilai besar lainnya. Kondisi ini memperkuat indikasi bahwa konsumsi dan pertumbuhan ekonomi memasuki fase lebih lambat pada awal tahun.
Secara mekanisme pasar, turunnya yield obligasi mengurangi biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas dan perak. Karena itu, investor meningkatkan alokasi ke logam mulia sebagai lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.
Pejabat The Fed Tegaskan Sikap Hati-Hati Soal Suku Bunga
Di tengah ekspektasi pasar terhadap potensi pelonggaran kebijakan, Presiden The Fed Bank of Cleveland Beth Hammack menegaskan bahwa bank sentral belum melihat urgensi untuk mengubah suku bunga tahun ini. Ia menyebut prospek ekonomi Amerika Serikat tetap berada dalam kondisi optimistis secara hati-hati.
Pernyataan tersebut menahan spekulasi berlebihan mengenai pemangkasan suku bunga. Meski demikian, pasar tetap mencermati setiap sinyal baru dari data ketenagakerjaan dan inflasi yang akan dirilis dalam waktu dekat. Kombinasi perlambatan ekonomi dan arah kebijakan moneter akan terus menjadi faktor penentu pergerakan harga emas dan perak dalam jangka pendek.
