Harga Emas Melonjak 17% Lebih di 2026, Siap Tembus US$ 6.000

Harga Emas Melonjak Tajam Sepanjang 2026 dan Membuka Peluang Tembus US$ 6.000

Ilustrasi emas. (Treasury)

NEW YORK – Harga emas dunia terus menunjukkan tren penguatan signifikan sepanjang 2026 seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global serta kuatnya permintaan dari bank sentral dan investor ritel. Kondisi tersebut mendorong sejumlah analis memproyeksikan harga emas berpeluang menembus level US$ 6.000 per ons troi dalam tahun ini.

Pada perdagangan Senin, 26 Januari 2026, harga emas spot melonjak 1,87% ke posisi US$ 5.076,45 per ons troi. Sepanjang sesi perdagangan, harga sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 5.093,15 per ons troi. Kinerja tersebut memperpanjang reli emas yang sejak awal tahun telah naik lebih dari 17%, setelah sebelumnya melesat tajam hingga 64% sepanjang 2025.

Survei Global dan Bank Investasi Mengerek Target Harga Emas 2026

Berdasarkan survei tahunan London Bullion Market Association (LBMA) yang dikutip dari Reuters, para analis memperkirakan harga emas dapat menyentuh level tertinggi hingga US$ 7.150 per ons troi pada 2026. Sementara itu, rata-rata harga emas tahun ini diproyeksikan berada di kisaran US$ 4.742 per ons troi.

Sejalan dengan proyeksi tersebut, Goldman Sachs menaikkan target harga emas untuk Desember 2026 menjadi US$ 5.400 per ons troi, dari proyeksi sebelumnya sebesar US$ 4.900. Kenaikan target ini mencerminkan keyakinan bahwa tekanan global akan terus menopang harga emas.

Analis Menilai Ketidakpastian Global Menguntungkan Emas

Analis independen Ross Norman memperkirakan harga emas berpotensi mencapai puncak di kisaran US$ 6.400 tahun ini, dengan harga rata-rata sekitar US$ 5.375 per ons troi. Ia menilai kondisi global yang penuh ketidakpastian justru menciptakan lingkungan yang sangat mendukung bagi penguatan emas.

Reli harga emas belakangan ini didorong oleh meningkatnya risiko geopolitik dan ekonomi, mulai dari ketegangan Amerika Serikat dan NATO terkait Greenland, ketidakpastian kebijakan tarif, hingga keraguan pasar terhadap independensi bank sentral AS, The Federal Reserve.

Permintaan Bank Sentral Mengokohkan Peran Emas sebagai Safe Haven

Direktur Metals Focus Philip Newman memproyeksikan ketidakpastian politik global akan meningkat seiring mendekatnya pemilu paruh waktu di Amerika Serikat. Di saat yang sama, kekhawatiran terhadap valuasi pasar saham yang dinilai terlalu tinggi mendorong investor melakukan diversifikasi portofolio ke emas.

Permintaan emas dari bank sentral global juga diperkirakan tetap solid sepanjang 2026. Goldman Sachs memproyeksikan pembelian emas oleh bank sentral mencapai rata-rata 60 ton per bulan, seiring upaya negara berkembang mendiversifikasi cadangan devisanya. Bank Sentral Polandia menargetkan peningkatan cadangan emas dari sekitar 550 ton menjadi 700 ton, sementara Bank Sentral China melanjutkan pembelian emas selama 14 bulan berturut-turut hingga Desember 2025.