Harga Emas Bangkit Saat Pasar Menimbang Dua Kekuatan Besar Global

Harga emas kembali menguat setelah sebelumnya mengalami tekanan di pasar global. Pemulihan ini terjadi seiring meredanya harga minyak serta melemahnya dolar Amerika Serikat yang sempat menekan pergerakan logam mulia.
Data Refinitiv menunjukkan harga emas ditutup di level US$5.193,93 per troy ons pada perdagangan Selasa, 10 Maret 2026. Nilai tersebut naik sekitar 1,06% dibandingkan sesi sebelumnya setelah sempat turun sekitar 0,64% pada perdagangan Senin.
Kenaikan ini menandai upaya pasar emas untuk bangkit setelah tekanan yang muncul akibat penguatan dolar serta gejolak harga energi global.
Pasar Emas Bereaksi terhadap Penurunan Harga Minyak dan Pelemahan Dolar
Pergerakan harga emas mulai membaik setelah harga minyak dunia mengalami penurunan pada perdagangan Selasa. Penurunan harga minyak tersebut ikut menekan nilai dolar Amerika Serikat di pasar global.
Indeks dolar tercatat berada di level 98,89 pada penutupan perdagangan Selasa, turun dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di kisaran 99,18. Pelemahan dolar ini membantu meningkatkan daya tarik emas bagi investor internasional.
Pada Rabu, 11 Maret 2026 pukul 06.18 WIB, harga emas masih melanjutkan penguatan meskipun terbatas. Saat itu emas diperdagangkan di level US$5.193,93 per troy ons atau naik sekitar 0,05%.
Ketegangan Geopolitik dan Penguatan Dolar Saling Menarik Harga Emas
Pergerakan harga emas saat ini dipengaruhi oleh dua kekuatan besar yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, ketegangan geopolitik global mendorong investor mencari aset aman seperti emas.
Namun di sisi lain, penguatan dolar Amerika Serikat justru menekan harga emas. Ketika dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain sehingga permintaan cenderung menurun.
Kondisi tersebut sempat terlihat pada perdagangan Senin ketika indeks dolar melonjak hingga mendekati level 99. Lonjakan ini membuat harga emas mengalami tekanan dan sempat melemah.
Pernyataan Presiden Donald Trump Memicu Optimisme Pasar
Harga emas mulai pulih setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa yang memberi sinyal bahwa konflik geopolitik berpotensi mereda. Pernyataan tersebut langsung memicu penurunan harga minyak dunia.
Penurunan harga energi memberi harapan bahwa tekanan inflasi di Amerika Serikat dapat berkurang. Situasi ini membuka peluang bagi bank sentral AS untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga pada tahun ini.
Harapan penurunan suku bunga membuat sebagian investor melepas dolar AS. Kondisi tersebut ikut mendorong harga emas kembali bergerak naik karena logam mulia biasanya lebih menarik ketika suku bunga turun.
Investor Menunggu Data Inflasi Amerika Serikat untuk Menentukan Arah Pasar
Meskipun harga emas mulai pulih, pasar masih bergerak dengan volatilitas tinggi. Investor kini menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi penentu arah kebijakan moneter berikutnya.
Jika inflasi kembali meningkat, peluang penurunan suku bunga bisa mengecil sehingga tekanan terhadap emas berpotensi muncul kembali. Sebaliknya, jika inflasi terkendali, peluang pelonggaran kebijakan moneter akan semakin besar dan dapat mendukung penguatan harga emas.
Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities, menyebut bahwa harga minyak yang masih tinggi tetapi mulai menurun memberi sinyal bahwa inflasi tetap ada namun tidak cukup besar untuk menghalangi penurunan suku bunga pada tahun ini. Menurutnya, kondisi tersebut mulai memberikan ketenangan bagi pelaku pasar.
