Harga Emas Dunia Turun Hampir 3% Meski Ketegangan Timur Tengah Memanas

Harga emas dunia justru melemah sepanjang pekan kedua Maret 2026 meskipun konflik geopolitik di Timur Tengah terus meningkat. Kondisi ini membuat banyak investor kebingungan karena logam mulia biasanya menguat saat ketidakpastian global meningkat.
Data Refinitiv menunjukkan harga emas spot dunia pada penutupan perdagangan Jumat, 13 Maret 2026, berada di level US$5.018,43 per troy ons. Nilai tersebut turun 1,19% dibandingkan hari sebelumnya. Secara mingguan, harga emas bahkan terkoreksi lebih dalam dengan penurunan mencapai 2,93%.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen pasar global tidak hanya dipengaruhi oleh faktor geopolitik, tetapi juga oleh dinamika makroekonomi yang lebih luas.
Penguatan Dolar AS dan Lonjakan Imbal Hasil Obligasi Menekan Harga Emas
Penguatan dolar Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas dunia. Pada akhir pekan, indeks dolar AS tercatat naik ke level 100,36.
Karena perdagangan emas global menggunakan denominasi dolar AS, penguatan mata uang tersebut membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Akibatnya, permintaan terhadap logam mulia cenderung menurun.
Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga menambah tekanan terhadap harga emas. Imbal hasil US Treasury tercatat meningkat hingga 4,28%. Kondisi ini membuat investor lebih tertarik pada instrumen berbunga seperti obligasi dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Investor Mengalihkan Dana ke Energi dan Melakukan Aksi Ambil Untung
Di tengah konflik yang meningkat, sebagian pelaku pasar juga mengalihkan investasi ke sektor energi seperti minyak mentah dan gas yang justru mengalami lonjakan harga. Perpindahan aliran dana ini turut mengurangi permintaan terhadap emas.
Wakil Presiden India Bullion & Jewellers Association (IBJA) sekaligus Executive Chairperson Aspect Global Ventures, Aksha Kamboj, menjelaskan bahwa banyak investor saat ini fokus pada komoditas energi yang berpotensi naik akibat risiko gangguan pasokan.
Sementara itu, Fund Manager di Kotak Mutual Fund, Satish Dondapati, menilai penurunan harga emas juga dipicu aksi ambil untung setelah kenaikan tajam yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Menurutnya, harga emas dan perak telah melonjak signifikan sebelumnya. Oleh karena itu, ketika konflik geopolitik memicu kenaikan harga sesaat, sebagian investor memanfaatkan momentum tersebut untuk merealisasikan keuntungan.
Pasar Menilai Konflik Timur Tengah Belum Mengubah Tren Jangka Panjang
Meski harga emas mengalami koreksi dalam jangka pendek, sejumlah analis menilai prospek logam mulia masih cukup kuat. Saat ini harga emas masih bertahan di atas level psikologis US$5.000 per troy ons.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi lebih mencerminkan gejolak makro jangka pendek daripada perubahan fundamental permintaan emas secara global.
Di sisi lain, ketegangan yang masih berlangsung di Timur Tengah tetap menjaga minat terhadap aset safe haven. Pasar saat ini menilai apakah konflik tersebut akan meluas atau hanya berlangsung terbatas secara geografis.
